LDR Part III

Assalaamu’alaikum sistah brothah…

Sudah lama ya.. saya vakum nulis blog, hoho. Sekarang lagi pengen nulis, hmmm.. Lebih tepatnya curhat bermanfaat, hehe..

Masih ingat dan sudah baca tulisan saya 7 tahun yang lalu? Tentang perjalanan LDR alias long distance relationship saya dengan someone special.. Kalau belum, baca ya di sini.. https://wordpress.com/post/deeshamay.wordpress.com/175 (hehehe) dan lanjutannya di sini https://wordpress.com/post/deeshamay.wordpress.com/192😀😀😀

Buat yang sekarang sedang menjalani hubungan LDR, saya yakin GA mudah, banyak godaan dan rintangan, tetap semangat. Mudah-mudahan tulisan saya bisa menginspirasi teman-teman ya.. Setelah berhasil melewati masa-masa indah sebelum menikah 7 tahun lalu, dan alhamdulillah akhirnya berjodoh dan menikah di tahun 2010, semua tidak berjalan semulus jalan tol teman, ada saja hambatannya. Namanya rumah tangga ada kalanya ribut, tapi dengan berbagai macam rintangan yang ada membuat kita lebih dewasa bukan? Alhamdulillah sekarang sudah dikaruniai 2 putri cantik dan sholehah.. aamiin..🙂

Namanya manusia, selalu ada rasa tidak puas. Setelah menikah sempat LDR 2 tahun karena suami kerja di Karawang sedangkan saya tinggal dan masih kuliah di Bandung, ketemu 1 minggu sekali bergantian seminggu suami pulang ke Bandung seminggu berikutnya saya yang main ke Karawang. Rasanya memang lelah… Kuncinya adalah SABAR dan BERSYUKUR, rasa rindu itu mengalahkan segalanya.. Cieee.. Hehe. Sampai saya dinyatakan hamil dengan status mahasiswa tingkat akhir, subhanallah rasanya campur aduk. Pengennya di dekat suami tapi kondisi ga memungkinkan, sidang skripsi sudah menanti, ketemu suami 2 minggu sekali. Tapi saya syukuri masih Bandung-Karawang, bukan Bandung-Jepang seperti waktu pdkt dulu.. Sekali lagi kuncinya adalah SABAR dan BERSYUKUR. Lulus kuliah S1 dengan sidang skripsi dalam kondisi hamil 6 bulan, kemudian melahirkan, setelah 2 bulan, tidak lama alhamdulillah dapet kerja, jadi tidak bisa ikut suami ke Karawang. 6 bulan kemudian pekerjaan menuntut saya melanjutkan kuliah lagi, tapi saya juga meyakini, saya kuliah lagi bukan buat saya sendiri, buat masa depan keluarga dan anak-anak kelak. Disini pengorbanan suami yang luar biasa, beliau resign dan fokus merintis usaha kos-kosan di Bandung.

Selama 3 tahun kami pindah-pindah kontrakan. “Punya kos-kosan ko ngontrak?”, dengarkan saja apa kata orang, karena saya lebih senang ketenangan apalagi saat itu sedang melanjutkan kuliah S2 yang pasti ada rasa lelah dan jenuh dengan tugas dan tesis, kalau tinggal di kosan pasti ramai. Jadi suami mengalah demi kenyamanan saya dan anak yang waktu itu masih berusia 8 bulan saat kami mulai mengontrak.

Pria seperti suami saya itu pantas diberi label Super Husband dan Super Dad, kalau saya kuliah dan kerja, beliau sendiri lho yang ngasuh putri kami (kami ga pakai pengasuh). Pekerjaan rumah tangga pun tak segan dikerjakan. Cibiran orang sekitar yang usil pun tidak kami gubris. Biar saja apa kata orang, saya bangga dengan suami dan keluarga kecil saya. Orang lain (bahkan sanak famili sekalipun) kan cuma lihat luarnya saja..🙂

Tapi.. Ya.. seperti yang saya bilang tadi, namanya membangun rumah tangga ada aja ribut-ribut nya. Hal-hal kecil dibesar-besarkan. Keegoisan dikedepankan. Kebanyakan keributan dari saya sih datangnya… Haha… Karena saya orangnya agak sensitif, suami orangnya tegas, jadilah itu api.. Haha.. Terkadang merindukan masa-masa LDR yang ada kangen-kangen nya. Namun, kami harus sama-sama dewasa bukan? Introspeksi setiap kesalahan dan keributan, karena dampaknya ke masa depan anak… Kuncinya sama-sama SABAR dan BERSYUKUR…

Setelah lulus S2 di tahun 2015, tak lama ‘sensitif’ menyatakan saya hamil lagi. Bersamaan dengan itu suami dapat kabar juga panggilan kerja 3 tahun ke Jepang lagi… Owalaaaa.. Campur aduklah perasaan saya.. Lagi hamil mau ditinggal jauh dan lama? Ngidam sendirian? Ngelahirin sendirian? Di kontrakan sendirian? Pengennya suami tolak aja kerjaan itu. Waah setan tuh bisikinnya macem-macem saat itu.. Tapi Allah itu Maha Sayang, memberi rezeki-Nya lewat suami yang penyayang, saya dan anak-anak dibikinin rumah (di ada-adain, di bela-belain, walau imut alhamdulillah punya sendiri). Daaan subhanallah nya lagi keberangkatan ke Jepang di tunda sampai 3 kali karena visa belum keluar. Alhamdulillah sampai saya melahirkan masih di dampingi suami, sempat di adzani, sempat ditimang-timang, sempat di gantiin popoknya, sempat di aqiqahi, sempat idul fitri bersama (waktu itu melahirkan di hulan Ramadhan, minggu terakhir bulan Ramadhan 2016). Allah itu Maha mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya…🙂

2 minggu setelah melahirkan, suami pun pamit berangkat berjuang ke Jepang… Rasanyaaaa.. Pengen nangis tapi gengsi, biar kelihatan tegar, karena saya juga tau suami pasti juga merasa berat meninggalkan keluarga, terutama anak-anak, masih balita dan bayi pula.. Sempet nyesel dulu pernah merasa rindu LDR, jadi seperti do’a yang di kabulkan, sekarang LDR lagi deh.. Tapi kalau kata suami sih.. “Cuma 3 tahun untuk selamanya”, hiiikkss.. (Jadi melodrama nih, hahaha)

Sekarang, November 2016, udah hampir 5 bulan LDR, masih ada 2 tahun 7 bulan lagi. Selama 5 bulan ini jangan kira adem ayem aja, LDR saat pacaran dengan LDR saat berumah tangga itu beda rasanya. Apalagi jadi berasa single parent, kuncinya sekali lagi SABAR dan BERSYUKUR.

Ada beberapa tips nih buat yang LDR-an tapi sudah berkeluarga yang tentunya pemikiran lebih dewasa dan matang, catet yaa… Hehe

1. Tetep komunikasi yaaa.. Gimana pun caranya, kalau lagi bete, jenuh, capek pun tetep say hello.. Walau tidak mesti tiap hari juga, asal tidak lost communication ya.. Kalau LDR kan jadi ada kangen-kangenan lagi.. Hehe

2. Jangan banyak nuntut (kata suami karena saya banyak maunya, hahaha). Ya.. Bener juga, biar ga ribut mulu.. Hihi.. Tapi seiring kita berumah tangga saya yakin pasti pikiran lebih dewasa, lebih berfikir dalam berkata dan bertindak (saya juga masih belajar)

3. Buang pikiran negatif, ganti jadi positif. Contoh: “baru 5 bulan, masih 2 tahun lagi” ganti dengan “udah 5 bulan, tinggal 2 tahun lagi”. Waktu terasa lama kalau kita berfikir negatif, terasa kesepian (walau memang kesepian), gunakan waktu dengan kegiatan-kegiatan dan berfikir positif. Misalnya lagi.. “kalau dia pulang bisa… (Pikirkan hal positif)”, kalau saya misalnya berfikir insyaAllah bisa main ke Jepang nanti.. Aamiin.. Hehehe.. Di bawa happy aja, walau saya yakin banyak rintangannya.. Tapi tetap yakin Allah Maha Memudahkan urusan hamba-Nya, Allah selalu memberi yang hal-hal yang tidak terduga yang terbaik bagi hamba-Nya..🙂

4. Berdo’a, supaya Allah tetap menjaga lahir batin kita, karena Allah Maha membolak-balikkan hati. Semoga sehat dan bisa berkumpul lagi, selamanya, sampai akhir hayat.. Aamiin..

5. Sabar sabar sabar, bersyukur, bersyukur, bersyukur. Kalau kata orang sabar itu ada batasnya, menurut saya sabar itu tak berbatas… Menjalani hidup memang harus senantiasa sabar, kalau tidak sabar tidak bisa hidup…🙂 . Mensyukuri segala nikmat Allah, supaya hati kita ringan menjalani apapun jalan kehidupan ini, supaya kita menjadi orang-orang yang sabar dan bertawakal. Ikhtiar tanpa do’a tanpa sabar jadi sia-sia. (Ini buat saya pribadi juga, selalu ingatkan diri sendiri)

Yaaaa… Itu sedikit circol saya di tulisan ini, mudah-mudahan bisa diambil hikmah dan manfaatnya. Buat teman-teman yang LDR tetap semangaaaaaaatttt!!!! Kita pasti bisa…😀😀😀

Salam sayang,

Aya and Shafa’s mom

:-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s