Lie Heart VIII

Awal 2007 NEWS kembali eksis di belantika music Jepang dengan lagu pembuka kebangkitan mereka Hoshi wo Mezashite. Hiroki dan Hironori pun sudah selesai dari masa suspend-nya, walau mereka belum kembali ke NEWS.

“Doumo!!” Sapaku kepada staf Hime no Star Agency.

“Horikita-san!!” Kata seseorang di sana. “Kau kemana saja??”

“hehehehe…”

Semua orang yang menyadari kedatanganku mengkampiriku. Mereka semua belum berubah. Tetap ramah seperti biasanya.

“Kenapa rambutmu jadi begitu…” Kata manajerku.

“Aku ingin tampil beda aja, jelek ya??” Tanyaku.

“Bukannya gitu…tapi pendek banget, kayak rambut cowok gitu!!!” Komentarnya.

“Hehehehe…”

“Kau ini benar-benar menghilang ya…nomor ponselmu juga ganti.”

“Ohya…gomen, nih nomor ponselku yang baru.” Aku menyebutkan nomor ponselku.

“Kau benar-benar jadi Maki yang baru ya…”

“Tentu saja.” Jawabku sambil tersenyum.

*Minna…mulai dari sini jadi 2 sudut pandang ya…dari Maki ma dari Pi*

*Maki*

Aku memulai karirku dari nol lagi. Aku mulai menerima tawaran-tawaran syuting dan pemotretan untuk majalah. Berita kembalinya aku cepat beredar. Atas saran agency, aku mengadakan konferensi pers.

“Gomen aku menghilang selama ini.” Kataku pada wartawan. “Sebenarnya ga ngilang sih…aku masih ada kok, hehehe”

“Lalu bagaimana perasaanmu saat ini?” Tanya salah satu wartawan.

“Baik. Aku seperti terlahir kembali.” Jawabku.

“Apa kau potong rambut karena hubunganmu dengan Akanishi berakhir?” Inilah pertanyaan yang paling menyebalkan.

“Tidak sama sekali. Aku Cuma ingin ganti image, sudah lama kan aku tidak muncul.”

“Lalu hubunganmu dengan Akanishi?”

“Aku tidak mau membahas masa laluku, lebih baik kita melihat saat ini dan masa depan kan?!”

“Baiklah…saat ini, bagaimana hubunganmu dengan Uchi? Dia baru saja kembali ke Johnny’s Entertainment kan?” Memangnya tidak ada pertanyaan lain ya…

“Baik. Dia sahabat yang baik.” Jawabku singkat.

“Apa mungkin kalian kembali lagi?”

“Ah…gomenne, aku masih ada pemotretan, arigatou minna.”

“Chotto Horikita-san…”

Pertanyaan mereka sudah berlebihan. Aku tidak mau membahas masalah pribadiku. Padahal kan sekarang harusnya membahas pekerjaanku. Untung saja aku memang ada pemotretan, jadi aku punya alasan untuk pergi.

*Yamapi*

“Nii-chan masih memikirkan dia?” Tanya Rina yang melihatku menonton konferensi pers Maki.

“Tidak.”

“Keliatan banget sih bohongnya.”

TING…TONG…

Bel rumahku berbunyi.

“Dare?” Tanya Rina.

“Atashi…Masami desu.”

“Masami nii-chan…douzo!!” Rina membuka pintu untuk Masami.

“doumo Tomo-chan!” Sapa Masami padaku.

“Doumo!”

“Kau sudah dengarkan kalau kita akan bermain di dorama yang sama lagi??” Tanya Masami.

“Hmm.” Aku mengangguk. “Aku sudah tau.”

“Dorama romantic lho!!”

“Hontou??” Tanya Rina.

“Hai.” Jawab Masami.

“Waaahhh…omedetou!!” Kata Rina. “Jadi Nii-chan bisa ngelupain si Horikita-san itu.”

“Kau masih mengingatnya Tomo?” Tanya Masami padaku.

“Tidak.”

Aku melangkah pergi ke kamarku. Aku membaringkan tubuhku ke atas tempat tidur. Aku menutup wajahku dengan lenganku. Aku bohong. Aku selalu mengingat wajahnya, tingkahnya, senyumnya, semuanya. Aku tidak bisa melupakannya. Aku rindu padanya.

Hanya karena harga diri aku mengucapkan kata ‘putus’ padanya.
Sekarang semuanya sudah terlambat. Di konferensi pers tadi Maki terllihat sangat bahagia. Aku yakin dia memotong rambut untuk melupakanku. Dia pasti sudah melupakanku sekarang.

Syuting dorama baruku dengan Masami sudah memasuki episode 3. Sekarang aku hanya bisa focus pada pekerjaan.

“Arigatou Tomo-chan.” Kata Masami yang aku antar ke rumahnya.

“Kochira koso.” Jawabku.

“Tomo-chan…” Panggilnya saat aku menyalakanmesin mobil.

“Hai?”

“Bagaimana kalau kita kembali seperti dulu??”

“Heh?”

“Aku mau jadi pacarmu lagi.”

“Aku…”

“Kau pasti masih mengingat Horikita kan?” Pertanyaannya langsung sekali. “Tomo kau harus menerima kenyataan kalau dia sudah melupakanmu.”

“…”

“Aku masih menyukaimu Tomo…”

“Gomenne. Aku masih ingin sendiri.” Jawabku.

“Aku heran kenapa sih banyak yang suka pada Horikita. Uchi, Akanishi, kau!! Apa kalian tidak sadar dia hanya mempermainkan perasaan kalian!!”

“Kau kenapa??” Tanyaku heran mendengar kata-kata Masami.

“Ah…gomen. Aku cemburu…”

“Jya.” Kataku menyelesaikan pembicaraan ini.

Aku pergi.

*Maki*

Sekarang Yamapi benar-benar jauh dariku. Dia pasti kembali pada Masami. Apalagi sekarang mereka bermain di dorama yang sama. Dorama romantic pula. Aku memang tidak berhak cemburu, karena Yamapi bukan pacarku lagi. Tapi…hati ini sakit melihat mereka. Apa Yamapi tidak mengingatku lagi sedikit pun.

“Horikita-san?” Panggil Toma Ikuta.

“Ah…hai.”

“Syuting segera dimulai.”

“Hai.”

Aku dapat kontrak main dorama bersama Shun Oguri dan Toma Ikuta. Kebetulan doramanya sesuai dengan potongan rambutku, karena aku berperan sebagai cowok di dorama Hanazakari Kimitachi e ini. Lagi-lagi bersama sahabatnya Yamapi. Semoga saja Toma bukan orang yang suka mencari masalah. Aku sudah lelah…

Syuting pun dimulai.

“Maki-chan!” Panggil Hiroki yang sengaja datang ke lokasi syuting untuk menjemputku. “jadi kan?”

“Hai. Arigatou. Gomen jadi merepotkanmu.”

“Iie…daijoubu. Memangnya kau bisa mengangkat barang-barangmu sendiri.”

“Hehehhe…arigatou.”

Aku memutuskan untuk pindah apartement. Aku membeli apartemen yang lebih besar dari sebelumnya. Sekarang aku tinggal bersama keluargaku di apartement itu. Jadi aku tidak kesepian lagi. Aku meminta Hiroki membantuku membereskan barang-barang di apartemenku yang lama.

Begitu banyak kenangan tertinggal di apartement ini. Awal aku menjadi artis dan memulai kehidupan baru. Banyak kenangan dengan Yamapi di sini. Sedih, senang, marah, semuanya ada di apartement ini.

Esoknya Hiroki mengantarku ke apartement yang baru. Untung saja kemarin ada Hiroki yang membantuku mengepak barang-barang. Jadi aku bisa pindah hari ini. Kami sampai di apartement yang baru. Keluargaku menyambut kedatanganku.

“Nii-chan!!” Sapa adik laki-lakiku Yuuta *100% ngarang* yang masih kelas 3 SMP. “Okaeri.”

“Tadaima…” Aku masuk, ayah dan ibuku datang menyambut. “Areeee…sudah rapi begini!!”

“Iya dong!” Kata Yuuta.

“Kemarin kami langsung merapikannya, tapi belum semua sih, kamarmu belum Maki. “Kata Okaa-chan.

“Daijoubu, biar aku yang bereskan.”

“Anata dare?” Tanya Yuuta pada Hiroki.

“Watashi…”

“Ahh…Hiroki Uchi-san ne??”

“Hai.” Jawab Hiroki.

“Kawaii…” Kata okaa-chan menghampiri Hiroki.

“Arigatou.” Kata Hiroki.

Sesuai dugaan Hiroki langsung akrab dengan keluargaku. Dia memang pintar beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

“Jadi kalian pacaran lagi?” Tanya Otoo-chan.

“Iie otoo-chan.” Kataku.

“Nande?” Tanya Otoo-chan.

“Karena kami akan langsung menikah jadi tidak perlu pacaran lagi.” Jawab Hiroki polos.

“Hiroki…”

“Hontou??” Tanya Yuuta.

“Hai…hai…”

“Chigau…Hiroki jangan berbohong!”

“Ah…okaa-chan setuju kok kalau punya menantu kayak Uchi-kun.”

“Okaa-chan.”

“Arigatou.” Kata Hiroki sambil senyam-senyum.

“Otoo-chan juga setuju.”

“Otoo-chan juga…”

“Tuh kan Maki, mereka semua sudah setuju lho!!” Goda Hiroki.

“Kalian semua sekongkol.”

“Hahahahaha…” Mereka semua tertawa, aku yang melihat mereka bahagia jadi ikut tertawa.

Sudah lama aku tidak bertemu keluargaku. Yuuta sudah besar. Aku benar-benar bahagia bisa berkumpul lagi dengan mereka.

*Yamapi*

“Yatta…selesai juga…” Teriak Koyama di NEWS room.

NEWS melakukan tour konser. Hari ini di Fukuoka. Cukup melelahkan. Aku harus kejar tayang juga dengan jadwal syuting Proposal Daisakusen yang sudah memasuki episode 5.

Kriiing…kriiing…

“Ryo…ponselmu bunyi!!” Teriakku memanggil Ryo.

“Hai…hai…”

Ryo mengangkat teleponnya. Dari Erika. Erika sedang hamil 6 bulan. Mereka benar-benar akan menjadi orang tua muda. Apa mereka tidak berfikir kalau punya anak itu akan merepotkan. Apalagi karir mereka sedang naik-naiknya.

“Sibuk ya…otoo-chan.” Kataku setelah Ryo menutup ponselnya.

“Urusshoi, bilang saja kau iri!” Balas Ryo.

“Ryo-chan kau curang…aku kan lebih tua darimu, kenapa kau yang jadi ayah duluan sih!!” Protes Koyama.

“Tenang Koyama…” Kata Shigeaki. “Kau tetap ayah kami kok!”

“Hahahahaha…” semua tertawa.

“Aku tidak sabar melihat chibi Nishikido, pasti lucu ya…” Kata Tego.

“Iya..iya…” Kata Massu. “Tapi aku lebih tidak sabar lagi meliahat bayi Yamashita-san dengan Horikita-san, pasti lebih lucu kan…eh…nande?”

PLAK. Tego memukul kepala Massu.

“Makannya jangan Cuma mikirin makanan!!”

“Nande?? Memangnya aku salah…”

“Kami sudah putus.” Kataku.

“Eeeehhh???Kapan??”

“Massu…kau ini ngapain aja sih selama NEWS pending??” Tanya Shige.

“Sudahlah…” Kataku. “Daijoubu.”

“Gomenne…” Kata Massu menyesal.

“Yo…minna makanan sudah datang!!!” Kata Koyama mencairkan suasana.

Aku menuju mobil untuk kembali ke Tokyo.

“Pi!!!” Panggil Ryo.

“Hai, nani?”

“Horikita-san sudah pindah apartement.”

“…” Aku diam sejenak. “Kenapa kau memberitahuku?”

“Hanya ingin memberitahu.”

Ryo pun pergi. Maki mau pindah kemanapun bukan urusanku kan. Kami benar-benar sudah menjauh. Apalagi dia sibuk dengan doramanya sekarang. Sebenarnya aku bisa saja Tanya pada Toma bagaimana keadaanya. Masalahnya…mulut dan hatiku selalu berkata lain.

Sesampainya di rumah aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Aku mengambil ponselku. Menekan angka 1. Speed call langsung memunculkan nama Maki.

Tuuut…

“Nomor yang anda hubungi belum terpasang”

Aku menutup ponselnya. Dia bahkan mengganti nomor ponselnya. Apa dia benar-benar ingin melupakanku sepenuhnya? Apa dia ingin menghapus semua tentangku dalam hidupnya??

*Maki*

NEWS kembali meroket. Sudah beredar kabar kalau NEWS akan meluncurkan DVD konser tour mereka. Aku bisa melihat di TV, kalau Yamapi lelah. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan lelahnya dia. Tapi aku tau Yamapi adalah cowok pekerja keras yang selalu maksimal untuk semua pekerjaannya.

Syuting Hana Kimi lebih cepat dari perkiraanku. Sekarang saja sudah memasuki episode 8.

“Horikita-san…” Panggil Ikuta.

“Hai?”

“Uchi-san datang menjemputmu tuh!”

“Ah…arigatou.”

“Ne…” Ikuta memanggilku. “Kalian masih pacaran?”

“Eh? Ah…tidak.”

“Oh…kalian akrab sekali. Menurutku kalian cocok.” Tambah Ikuta sambil tersenyum.

“Arigatou.”

Aku pun pergi. Kenapa dia bilang begitu. Memangnya dia tidak tau aku pernah pacaran dengan sahabatnya. Sebenarnya semua orang bilang begitu padaku. Tapi hatiku masih terisi oleh Yamapi.

Hiroki mengantarku sampai rumah. Seperti biasanya. Hiroki seperti kembali dalam hidupku. Dia cowok yang mengisi hidupku. Selalu ada untukku. Tapi aku tidak mau membuatnya kecewa lagi seperti waktu itu. Aku rasa dia cukup menjadi sahabatku.

“Maki…” Panggil okaa-chan.

“Ah…” Aku baru sadar terlalu banyak memasukkan merica ke masakan untuk makan malam. “Bagaimana??”

“Kau ini!!” Kata okaa-chan. “Aku sudah bilang berapa kali, jangan melamun kalau sedang masak!!”

“Gomen…gomen…”

“Aku sudah tidak tahan untuk mengatakan ini padamu…” kata okaa-chan sambil terus memasak.

“nani??”

“Lebih baik kau lupakan Yamashita.”

“Heh?”

Memang di keluarga ini hanya okaa-chan yang kuberitahu hubunganku dengan Yamapi. Sejak aku jadi artis, hanya okaa-chan yang bisa kuajak curhat semua masalahku. Jadi bisa dibilang…dia tahu semuanya.

“Kau jadi Maki yang sering melamun. Kau harusnya bisa melihat dunia luar.”

“Aku sudah jadi Maki yang baru okaa-chan. Aku tidak akan terpuruk lagi dalam masa laluku.” Tegasku.

“Kalau kau memang bertekad seperti itu, seharusnya kau bisa melupakan Yamashita sepenuhnya.”

“…”

“Berat untukmu??” Tanya okaa-chan sambil terus memasak.

“…”

“Maki-chan coba bukalah matamu.” Sekarang okaa-chan berbalik menatapku. “Ada lelaki yang lebih baik daripada Yamashita.”

Mata okaa-chan tertuju pada Hiroki.

“Dengar Maki…” Tambah okaa-chan. “Kau akan lebih bahagia dengan lelaki yang selalu ada disampingmu, mengerti keadaanmu, dan mau menerimamu apa adanya. Terkadang cinta itu indah, terkadang bisa sangat menyakitkan. Maki…pilih pendamping hidup yang selalu melindungimu.”

Aku tahu. Aku mengerti. Tapi hati ini tidak bisa berbohong. Aku menatap Hiroki yang sedang tertawa bercanda dengan otoo-chan dan Yuuta. Apa aku pantas untuk cowok sebaik dia??

Esok harinya.

Kriiing…kriiing…

Ponselku berbunyi. Dari Erika.

“Moshi-moshi…”

Maki-chan…tasukette!!!

“Eh? Erika nande??”

Aku terpeleset di kamar mandi…perutku sakit…Ryo sulit dihubungi.

“Aku segera kesana…bertahanlah…matter!!!”

Aku langsung pergi. Erika kan sedang hamil. Semoga dia dan bayinya tidak apa-apa. Di perjalanan aku mencoba menghubungi ponsel Ryo. Tapi selalu sibuk. Siapa yang harus kuhubungi…ah…

Moshi-moshi?” Sapa Yamapi di sebrang sana.

Jantungku berdebar kencang. Sudah lama aku tidak mendengar suaranya. Tapi aku tidak tau lagi siapa yang harus kuhubungi.

“Moshi-moshi, apa Nishikido-san bersamamu??”

Tidak.” Jawabnya. “Nande?

“Erika terpeleset di kamar mandi. Aku sudah menghubungi Nishikido tapi selalu sibuk. Aku takut Erika kenapa napa, jadi…”

Aku segera ke sana.

*Yamapi*

Mungkin aku egois. Tapi tadi Maki meneleponku. Dia masih ingat padaku. Berarti aku masih punya kesempatan kan. Hatiku benar-benar loncat kegirangan. Aku segera mengambil kunci mobil dan pergi.

“Kau mau kemana?” Tanya Masami.

Kami ada di lokasi syuting Proposal Daisakusen untuk episode yang ke-9.

“Erika jatuh. Aku harus ke sana.” Jawabku.

“Aku ikut.”

Tanpa diminta Masami masuk ke dalam mobil. Aku menekan gas dan buru-buru ke apartement Ryo.

*Maki*

“Erika-chan!!” Panggilku begitu sampai. “Erika-chan buka pitunya!!!”

“Aku tidak bisa…” Balas Erika dari dalam.

Pintu apartemennya di kunci. Sepertinya Erika terlalu lemas untuk membuka pintu. Aku mencoba mendobrak pintunya.

“Erika…bertahanlah!!!” Teriakku.

“Minggir…” Yamapi datang dan langsung mendobrak pintu apartement.

Erika mengalami pendarahan. Yamapi segera menggendong Erika. Kami membawanya ke rumah sakit. Saat aku melihat Masami di dalam mobil Yamapi, dadaku terasa sesak. Tapi ini bukan saatnya memikirkan diri sendiri.

Di rumah sakit…

“Mana Erika??” Tanya Nishikido sambil ngos-ngosan karena berlari.

“Dia di dalam, sedang tidur.” Jawab Yamapi.

Syukurlah Erika tidak apa-apa. Kata dokter kalau 5 menit saja terlambat, mungkin Erika akan kehilangan bayinya. Dia butuh banyak istirahat sekarang. Nishikido sudah datang, jadi aku memutuskan untuk pulang.

“Chotto!” Yamapi menarik tanganku. Refleks aku menepisnya. “Katanya kau pindah apartemen?”

“Hmm.” Aku menganguk.

“Genki?” Aku belum pernah melihat Yamapi sekaku ini.

“Hai…genki desu.” Jawabku. “Kau?”

“Daijoubu.”

“Kalian main dorama berdua kan?” Aku berusaha bicara senormal mungkin dan dengan senyum. “Aku selalu menontonnya lho!”

“Itu karena ada Tomo kan?” Celetuk Nagasawa.

“Hehehehe…” Aku tertawa seeeenormal mungkin. “Doramanya emang keren kok!! Habis kalian pasangan yang cocok sih…”

“Souka?” Tanya Yamapi.

“Tentu saja. Sudah lama tidak bertemu kau tidak banya berubah ya…Cuma rambutnya aja yang berubah.” Kataku. “Banyak yang bilang kau seperti anak SMA lagi lho!!”

“Hontou?”

“Hmm.” Aku mengangguk. “Ah…aku harus pergi, jya!!”

Aku pergi. Aku benar-benar berusaha keras untuk tidak menangis dan memeluk Yamapi. Aaahh…ponselku tertinggal di dalam kamar rawat Erika tadi. Kenapa bisa tertinggal sih…

*Yamapi*

Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu.

“Benar kan…” Kata Erika. “Dia sudah melupakanmu Tomo.”

“…”

“Kenapa kau tidak melihatku!!!” Bentak Masami padaku. “Aku sudah lama bersamamu kan!!!”

“…”

BRUG.

Masami mendorongku ke tembok. Dia menciumku.

“Masami…” Aku mendorong tubuhnya. “Ah…”

Maki berdiri di samping kami. Dia pasti melihat Masami menciumku. Gawat.

“Ah…” Maki gugup. “Gomen…aku mau ngambil ponselku, tertinggal di dalam.”

Maki dengan cepat mengambil ponsel di kamar inap Erika. Dia terlihat salah tingkah saat melewati kami. Aku sudah berhasil ngobrol dengannya. Aku tidak mau kehilangannya lagi.

“Chotto Maki!!!” Aku menarik tangannya, seperti sebelumnya dia langsung menepis tanganku.

“…”

“Tadi itu…”

“Kau tidak perlu menjelaskan sesuatu.” Katanya memotong penjelasanku.

“Demo…”

“Kau mau berciuman dengan cewek manapun itu bukan urusanku.” Katanya. “Aku sudah lama melupakanmu, Yamashita-san.”

“Maki-chan…nande?” Maki menghiraukan kedatangan Uchi.

Dia benar-benar sudah melupakanku. Bahkan dia memanggilku Yamashita bukan Tomohisa.

“Apa lagi yang kau lakukan?” Tanya Uchi.

“…”

“Aku pernah bilang padamu kan…” Tatapan Uchi seperti waktu. “Kalau kau menyakiti Maki lagi, aku akan mengambilnya darimu.”

Uchi pergi masuk ke dalam rumah sakit. Hatiku yang melompat kegirangan dalam hitungan menit remuk. Perasaanku saat ini seperti orang yang dijatuhkan dari puncak gunung Fuji *lebay*.

*Maki*

Ini bukan urusanku. Bukan urusanku. Bukan urusanku. Aku terus meneriakkan kalimat itu dalam benakku. Aku tau Masami yang mencium Yamapi tapi…aku sakit melihatnya. Tidak…tidak…aku tidak boleh terpuruk lagi. Tidak boleh!!!

Syuting hari ini berlangsung cepat. Hiroki mengajakku jalan-jalan. Dia mengajakku ke game station. Sejenak aku bisa melupakan semua tentang Yamapi. Pikiranku sedikit tenang. Lalu kami makan malam di Couple Restaurant.

“Maki-chan…” Panggil Hiroki.

“Hmm…”

“Untukmu.” Hiroki menyodorkan kotak kecil berisi cincin padaku. “Kau mau menikah denganku??”

“…” Air mataku keluar.

“eeehh…” Hiroki kaget melihatku menangis. “Aku tidak bermasud memaksamu, kau bisa memikirkannya dulu, jadi…jangan menangis…onegai…”

“Hmm.” Aku menggeleng. “Aku merasa tidak pantas untukmu Hiroki, kau terlalu baik untukku.”

“Nande sore??” Hiroki menggenggam tanganku. “Aku ingin Horikita Maki yang apa adanya.”

“Arigatou…hontouni arigatou…”

“Jangan menangis lagi…nanti orang-orang salah paham.”

Tuhan…kalau memang Hiroki cowok yang ditakdirkan untuk mendampingi hidupku, mudahkanlah aku melupakan Yamapi. Aku menerima lamaran Hiroki.

Mungkin terlalu cepat, tapi lebih cepat aku menikah dengan Hiroki, lebih cepat juga aku melupakan Yamapi. Sebulan dari sekarang, aku akan menjadi istri Hiroki.

*Yamapi*

Syuting untuk episode 10 kemarin terasa lama. Untuk pertama kalinya aku tidak focus pada pekerjaanku. Karena kemarin aku dapat undangan pernikahan dari Erika. Diundangan itu tertulis calon pengantin pria Hiroki Uchi dan calon pengantin wanitanya…Maki Horikita. Aku tidak bisa berkata-kata dan berbuat apa-apa lagi. Semuanya sudah terlambat. Maki akan menjadi milik cowok lain.

“Nii-chan!!!” Teriak Rina dari ruang tengah. “Maka snackku!!!! Kau mencurinya kan!!!”

Sejak kemarin Rina sering marah-marah. Entah kenapa dia uring-uringan. Aku turun ke ruang tengah untuk mengembalikan bungkus snack yang dicari Rina.

“Dasar pencuri!!!!” Bentak Erika. “Kau harus menggantinya!!!”

“Aku akan ganti.”

“Aku mau sekarang!!”

Aku menyalakan TV, mengacuhkan omelan Rina. Sepertinya acara TV pun tidak mendukung perasaanku. Tepat acara yang muncul adalah konferensi pers tentang pernikahan Uchi dan Maki.

Ternyata kalian memang masih bersama ya…” Komentar wartawan.

“Hehehehe…” Hiroki dan Maki hanya tertawa.

“Bagaimana perasaan kalian seminggu lagi akan menikah?”

“Tentu saja aku senang.” Jawab Hiroki. “Aku tidak sabar menantinya.”

“Horikita-san?”

“Shiawase ne…” Jawabnya. “Aku deg-degan memikirkan aku akan menikah.”

JREB. Hatiku seperti terpanah melihat Maki bahagia menikah dengan cowok lain.

“Waaahhh…kau menyusul sahabatmu Nishikido-kun ya??”

“Iya…iya…aku iri dia menikah lebih dulu dariku.” Jawab Hiroki. “Padahal kami berjanji akan menikah bersama.”

“Hontou??”

“Hehehehe…bercanda.”

Rina tiba-tiba mematikan TV-nya. Dia lari ke kamarnya.

“Rina…remotnya!!!” Panggilku.

Seminggu terasa hanya satu hari. Besok Maki akan menikah. Aku tidak akan datang. Karena aku yakin air mataku pasti mengalir melihat Maki memakai gaun pengantin untuk orang lain. Untungnya besok adalah syuting terakhir Pro Dai, jadi aku punya alas an untuk tidak datang.

Aku mengambil poselku dan menelepon ponsel Maki. Tersambung, dia mengangkatnya. Tapi dia tidak bicara sepatah kata pun, bahkan ‘moshi-moshi’ sekalipun. Untuk beberapa menit kami terdiam. Sampai Maki menutup teleponnya.

*Maki*

Kenapa Yamapi meneleponku?? Kenapa dia hanya diam saja?? Kenapa disaat seperti ini dia malah membuatku berharap?? Tidak…aku tidak boleh memikirkannya lagi. Ayolah Maki…besok kau akan menikah dengan Hiroki. Jangan berfikir macam-macam.

Kriiing…kriiing…

Ponselku kembali berbunyi. Yamapi kembali meneleponku. Tidak sada suara. Tepat saat aku memutuskan untuk menutupnya…

Moshi-moshi.” Sapa Yamapi.

“Moshi-moshi…” Jawabku.

Anoo…go kekkon omedetou gozaimasu…

“Hmm…arigatou. Tapi pernikahanku baru besok, jadi…”

Besok aku tidak bisa datang.” Potong Yamapi. “Aku ada syuting episode terakhit Pro Dai.

“Souka…”

Apa kau bahagia??”

“Heh?”

Apa kau benar-benar bahagia menikah dengan Uchi-kun??” Tanya Yamapi lebih tegas.

“Tentu saja…” Jawabku. “Dia selalu ada untukku.”

Sou desu ne…syukurlah kalau begitu. Demo…walau kau sudah melupakanku, aku tidak akan pernah melupakanmu…aku akan selalu menyukaimu…Horikita-san.”

“…”

Jya.

Yamapi menutup teleponnya. Nande…kenapa baru bilang sekarang?? Yamapi bodoh!!! Semuanya sudah terlambat…aku menutupi wajahku, menangis untuk yang kesekian kalinya.

*Yamapi*

Kriiing…kriiing…

Ponselku berbunyi.

Moshi-moshi…Tomo-chan kau dimana?” Suara Erika terdengar kencang sekali.

“Aku di lokasi syuting.” Jawabku.

NANI KORE?!” Erika berteriak. “20 menit lagi acara pernikahannya akan dimulai!!

“Aku tau.” Kataku. “Aku juga sudah memberitahu Horikita kalau aku tidak bisa datang.”

Eeehh??

“Gomen…syutingnya mau mulai.”

Aku menutup ponselku. Aku harus menahan diriku untuk tidak merusak acara pernikahan Maki dan Uchi.

“Baaakaa…”

“Jin?” Aku melihat Jin berdiri di depanku. “Kenapa kau ada di sini?”

“Untuk menyadarkan cowok bodoh di hadapanku.”

“nani?”

Jin duduk di sampingku.

“Aku tidak akan minta maaf atas kejadian tahun lalu.” Jin memulai pembicaraan. “Karena aku juga menyukai Maki.”

“Aku sudah tahu.”

“Aku yang memaksanya kencan.”

“Eh?”

“Dia ingin tahu hubunganmu dengan Nagasawa, dan kenapa aku begitu membencimu.”

“Hah? Kenapa dia tidak Tanya langsung padaku?”

“Kau pikir setelah Nagasawa menabraknya dia dengan mudah dapat informasi darimu?”

“Masami menabraknya?”

“Aku datang ke sini bukan untuk membahas masa lalu.” Kata Jin. “Maki menunggumu.”

“Eh?”

“Aku melakukan ini bukan untukmu, tapi untuk Maki, aku hanya ingin cewek yang aku sukai bahagia.”

“Tapi 20 menit lagi dia akan menikah.”

“Masih ada 20 menit lagi.”

Aku langsung menancap gas mobilku. Kalau pakai mobil butuh waktu 15 menit untuk sampai di tempat pernikahan itu. Sial. Sedang ada perbaikan jalan. Macet total. Aku melihat jam. 10 menit lagi. Aku memutuskan keluar dari mobil dan berlari *bayangin Pi lari di Pro Dai episode 1*. Maki…kumohon beri aku kesempatan sekali lagi…onegai…Aku terus berlari.

*Maki*

Acaranya sudah dimulai. Hiroki menungguku di depan *setting dorama Pro Dai*. Aku berjalan menuju Hiroki. Hiroki menawarkan tangannya untukku. Aku menyambutnya.

Kata-kata Yamapi kemarin malam terus terngiang di telingaku.

“Apa kau bersedia??”

“…”

“Horikita-san…sekali lagi…apa kau bersedia menikah dengan Uchi-san??”

“…”

GREP. Hiroki menarik tanganku dan mengajakku berlari keluar tempat pernikahan.

“Yamashita-san pasti menunggumu.” Kata Hiroki.

“Demo…”

“Pergilah!”

“Gomenne Hiroki…”

Tanpa pikir panjang aku berlari ke tempat syuting Yamapi *bayangin Maki lari di Kurosagi episode terakhir sambil pake gaun pengantin*. Aku melepas sepatu hakku dan berlari lebih kencang.

*Yamapi*

Orang-orang berhamburan keluar dari dari tempat pernikahan. Apa aku terlambat? Apa Maki sudah resmi jadi istri Uchi? Aku menarik nafas cepat setelah berlari. BRUK. Aku berutut. Kakiku lemas, ditambah lagi harus menerima kenyataan kalau Maki sudah jadi milik orang lain.

“Yamashita-san?” Panggi seseorang yang aku kenal suaranya.

“Uchi-kun?”

“Kenapa kau ada di sini?”

“Aku…sepertinya aku terlambat mengambil Maki darimu.”

“Nani? Memangnya kau tidak bertemu Maki?” Tanya Uchi.

“Heh?”

“Dia pergi ke tempat syutingmu.” Katanya. “Aku tidak bisa memaksanya untuk menikah denganku.”

Mendengar Maki belum menikah dengan Uchi, aku merasa kekuatanku kembali pulih. Aku berlari balik ke arah tempat syutingku. Aku melihatnya. Sosok Maki yang sedang berlari dengan gaun pengantinnya.

GREP. Aku memeluknya dari belakang.

“Aku tidak akan melepasmu lagi…” Kataku. “Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari hidupku lagi…”

Maki langsung berbalik dan memelukku. Dia menangis dalam peluaknku.

5 tahun kemudian…

“NEWS…NEWS…NEWS…!!!”

Teriakan para fans memenuhi aula konser. NEWS semakin gemilang di puncak. Sejak 3 tahun yang lalu NEWS lengkap beranggotakan 8 orang. Hiroki dan Hironori sudah kembali. Teriakan kyaaa…semakin terdengar kencang saat kedelapan member NEWS keluar panggung.

“Otoo-chan…otoo-chan!! Okaa-chan…otoo-chan ada di panggung!!”

“Iya Yui…itu otoo-chan.”

“Ne…okaa-chan.” Panggil Yazu. “Kalau sudah besal aku mau jadi kaya otoo-chan.”

“kalau gitu kau harus berjuang dari sekarang…”

“Hai..hai..Yazu akan belusaha…ganbalimasu…”

“Yui…yazu…ssssttt…” Pinta Rina.

Tepat di awal tahun 2008, 4 tahun yang lalu, aku menikah dengan Yamapi. Yui dan Yazu adalah anak kembar *cewek cowok* dari buah pernikahan kami.

“Otoo-chan!!” Teriak Yui dan Yazu bersamaan setelah konser berakhir.

“eeehhh??? Kalian ada di sini??” Tanya Yamapi.

“Okaa-chan yang ajak.” Jawab Yui.

“Maki…kenapa kau ajak mereka??”

“Nande? Memangnya salah kalau aku ajak mereka?”

“Kau tau kan konser itu penuh sesak, bagaimana kalau mereka tejepit atau terdorong-dorong atau bahkan hilang??”

“Kau pikir aku ibu yang tidak bertanggung jawab apa!!”

“Ne…Yazu.” Panggil Yui. “meleka beltengkal lagi…”

“Bialin aja nanti juga akul lagi…”

Begitulah…

…THE END…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s