Lie Heart VII

Malam itu kami lelah setelah syuting Kurosagi. Kami merayakan ulang tahun Yamapi di apartemenku. Berdua kami menghabiskan malam berdua. Dengan erat Yamapi memelukku dalam tidurnya. Aku bisa merasakan kehangatan pelukannya…*co cwiiiit…mupeng*

Aku menunggu Akanishi tepat jam 9 pagi di depan Star Park. Dia belum datang juga. Semoga saja dia memang tidak datang. Tapi…sepertinya harapanku sia-sia.

“Ohayo Maki!!” Sapa Akanishi. “Kau menungguku dari tadi??”

“Jam 9 tepat, kau terlambat!” Kataku.

“Ya…ampun…aku kan Cuma terlambat 5 menit.”

“Sudahlah ayo masuk.” Ajakku.

Kami pun masuk ke Star Park. Ngomong-ngomong aku belum pernah kencan dengan Yamapi sejak berpacaran. Kami hanya bertemu di lokasi syuting dan apartemenku. Menghabiskan waktu pun di sana. Kenapa aku malah kencan sama cowok lain sih…

“Jadi???” Tanyaku membuka pembicaraan.

“Apa?” Tanya Akanishi pura-pura bodoh.

“Dengar ya Akanishi-san.” KAtaku tegas. “ Aku menerima ajakan kencanmu karena aku mau mendengar penjelasanmu tentang hubungan Tomo dan Nagasawa.”

“Kau ini langsung sekali sih…bagaimana kalau kita main dulu??”

“Demo…”

“Kalau Cuma ngobrol sih bukan kencan namanya.” Ucap Akanishi. “Ikuzo!” Akanishi menarik tanganku. Aku menepisnya. “Ne…sekarang kita sedang kencan kan…”

“Tidak perlu pegang-pegang kan!!”

“Galak sekali…”

Aku dan Akanishi bermain wahana-wahana yang ada. Saat bermain roll coaster aku berteriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan semua masalah yang ada di dalam pikiranku. Setelahnya aku sedikit lega. Terakhir kami masuk ke rumah hantu.

“Kya…”

“KYAAAAA!!!!” Akanishi memegang erat lenganku. Tangannya begetar.

“Eh??”

“Kowai…kowai…kowai…cepat keluar dari si…GYAAA!!!”

“Hahahahahaha…” Aku melepaskan tawaku setelah keluar dari rumah hantu itu.

“Jangan tertawa!!”

“Habis…aku tidak menyangka kau ini penakut, hahahaha”

“Shikashi…aku pasti ancur banget tadi di dalam.”

“Hahahahaha…”

“Yamette yo!!” Muka Akanishi memerah.

“Harusnya tadi kau bilang kalau kau takut ke rumah hantu.”

“Aku tidak bisa bilang begitu di depan cewek yang aku suka.”

“eh??”

“Tapi tidak apa-apa, akhirnya kau bisa tertawa kencan denganku.”

*catatan: Jin emang takut ke rumah hantu, waktu ada game nge-date, jin ke rumah hantu bareng cewek yang nge-date ma dia di game itu, asli…jin ampe kabur ninggalin ceweknya sendiri…hahahaha…*

“…”

“Kau mau es krim?” Tawar Akanishi.

“Boleh.”

Aku menunggu Akanishi di bangku taman ria itu.

“Nih!” Akanishi menyodorkan es krim padaku.

“Arigatou.”

“Oishii…”

“Ne…” Panggilku. “Sebenarnya kau ini cowok baik, tapi…kenapa kau berbuat semua ini sih, kau malah terlihat jahat tau!!”

“Arigatou.”

“Jadi…apa hubungan mereka??” Tanyaku.

“Kau ini benar-benar penasaran ya?” Tanyanya.

“Sudah jelas kan, kalau tidak mana mungkin aku…”

“Mau kencan denganku.” Potongnya.

“Hmm.” Aku mengangguk menegaskan.

“Kami satu sekolah waktu SD.” Akanishi memulai ceritanya. “Nagasawa kakak kelas kami. Aku dan Pi beda kelas. Saat itu Nagasawa sudah mulai terjun ke duania artis. Waktu kelas 2 orang tua Pi bercerai *aku lupa umur Pi berapa taun sih waktu itu??*. Setahun setelah orang tua Pi bercerai, ayah Pi menikah dengan ibunya Nagasawa.”

“Eh??” Aku baru tau…”Jadi Tomo dan Nagasawa kakak beradik??”

“Hmm.” Akanishi mengangguk. “Pi yang mengetahui itu langsung mendatangi Nagasawa dengan marah-marah.”

*Flash back*

“Aku tidak rela kau merebut ayahku!!!” Teriak Yamapi di kelas Nagasawa.

“Aku juga tidak mau.” Kata Nagasawa. “Aku jadi kesepian, aku tidak punya teman di rumah…dakara…kau mau jadi temanku kan??”

“Sejak saat itu Pi dekat dengan Nagasawa. Mereka selalu bersama. Alasan Pi masuk ke dunia hiburan pun karena ingin selalu bersama Nagasawa, memasuki dunia yang sama dengan Nagasawa. Mereka juga sempat berpacaran diam-diam waktu SMP. Karir Nagasawa semakin menanjak, hubungan mereka sempat terbongkar waktu kelas 3 SMP. Namun tidak banyak orang yang tau, karena Nagasawa mengumumkan dia pacaran dengan Hiroshi Tamaki *sorry minjem nama*, hanya untuk menutupi hubungannya dengan Pi.” Akanishi diam sesaat. “Pi sangat sakit hati, sampai dia melihat fotomu di majalah dan membaca profilemu. Hanya karena kau bilang kau ingin jadi artis karena ingin bersama dengan orang yang penting untukmu dan ingin besama di dunia yang sama dengan orang itu, dia kegirangan dan mulai menganggap Nagasawa sebagai kakaknya. Dia semakin bersemangat dengan dunia artis, karena merasa dia punya teman yang bisa mengerti dia, yaitu kau.” Akanishi berhenti dan terdiam.

“Kau tau banyak tentang Tomo, lalu kenapa kau membencinya??”

“Karena dia selalu merebut apa yang aku punya!!!”

“Eh??”

“Aku masuk Johnny lebih dulu *iya gt??* tapi dia mendapat popularitas lebih banyak, aku yang lebih dulu bertemu denganmu tapi dia yang mendapatkanmu!!!” Tangan Akanishi mengepal erat dan bergetar menahan marah.

“Itu namanya egois, Tomo mendapatkan popularitas lebih karena dia berusaha keras.” Bantahku. “Masalah perasaan tidak bisa dilihat hanya dari siapa yang lebih dulu bertemu!!”

“Kau benar-benar lupa denganku…” Kata Akanishi.

“Heh?”

“Kau ingat anak laki-laki berumur 10 tahun yang menangis di depan kuil?” Tanya Akanishi. “Dia menangis dengan luka memenuhi muka dan tubuhnya. Bajunya kotor dengan lumpur. Saat itu hujan sedang deras.”

“Chotto…”

Aku mengingat kembali memori masa kecilku. Di depan kuil dekat rumahku. Waktu itu sedang hujan deras, aku pulang dari rumah temanku. Aku melihat seorang anak laki-laki memakai kacamata menangis. Sepertinya seumuran denganku.

“Nande?” Tanyaku mendekati anak laki-laki itu. “Kenapa kau menangis?Akhh…kau terluka.”

Anak itu malah mau pergi, tapi aku menahannya.

“Aku bawa hansaplas, aku obati dulu ya…” Kataku menariknya.

“Hanase yo!! Biarkan aku pergi!!”

“Tidak bisa, lihat lukamu dimana-mana, hujannya deras lagi…sakit kan!!”

“BIARKAN AKU!!!” Teriaknya.

“Jadi orang jangan keras kepala!! Kalau kesal ya bilang kesal, kalau marah ya bilang marah, kalau sakit juga harus bilang sakit!!!”

“…”

“Sini aku obati.”

Aku menariknya ke teras kuil dan mengobati lukanya. Aku ingat aku menempelkan 6 hansaplas padanya.

“Selesai.” Kataku setelah menempelkan hansaplas terakhir di pipinya.

“a…ari..gatou…”

“Hmm…” Aku mengangguk. “Kalau boleh tau kenapa kau menangis?”

“Aku dikerjain teman-temanku.” Jawabnya pelan sambil menunduk.

“Dikerjain?? Ini sih namanya dikeroyok!! Kenapa kau tidak melawan??”

“…”

“Kau takut?”

“…”

“Wajar sih kalau mereka banyak. Tapi bagaimana pun kau harus membela diri sendiri!!”

“Ini akibat aku melawan.”

“Eh??”

“Aku suka bertanya-tanya…apa aku tidak boleh sedikit bermimpi ya…”

“Eh?”

“Apa aku terlalu jelek untuk bermimpi?”

“Semua orang berhak bermimpi kok!! Apapun mimpinya, memangnya kau ingin apa??”

“Aku…ingin jadi artis terkenal.”

“Hmm…”

“Kenapa kau tidak tertawa?” Untuk pertama kalinya anak itu menatapku.

“Apa yang harus ditertawakan?” Kataku. “Ingin jadi artis terkenal itu mimpi yang bagus kok.”

“Tapi mereka bilang aku tidak pantas jadi artis, aku jelek!!”

“Hmmm…” Aku melepas kacamatanya. “Kau manis kok!!”

“…”

“Ah…hujannya sudah reda, aku harus segera pulang, ibuku mau mengajarkanku memasak. Aku duluan ya…” Aku pergi. “Ah…kalau mereka masih berani mengerjaimu panggi aku ya…Horikita Maki…nanti kalau kau sudah jadi artis aku akan jadi fansmu yang pertama…jya!!!”

Aku pergi lupa menanyakan namanya.

“Ternyata itu kau?” Tanyaku memastikan.

“Hmm…” Akanishi mengangguk.

“Tapi kau tidak adil kalau menyalahkan Tomo dalam hal ini.”

“Apa aku masih tidak adil kalau dia yang membuatku menangis??”

“Eh??Maksudmu…”

“Orang yang menghinaku, orang yang mengerjaiku, orang yang membuatku putus asa adalah Yamapi, apa kau masih mencoba menghentikan rasa benciku padanya???”

“…” Aku tidak bisa berkata-kata.

Clak…

Air mata Akanishi mengalir.

“Dia tidak pernah minta maaf padaku. Dia bahkan tidak pernah ingat anak laki-laki itu adalah aku.“ Kata Akanishi dengan suara bergetar karena menangis. “Dia juga membuat aku dibenci olehmu. Aku benar-benar benci padanya. Aku benci…”

Kebencian Akanishi seperti mengalir padaku. Aku bisa merasakan kebenciannya pada Yamapi. Rasa sakit hatinya, rasa ingin membalas dendam. Tubuhku spontan memeluk Akanishi yang tertunduk menangis.

“Ne…” Kataku pada Akanishi. “Aku tidak bisa melarangmu untuk tidak membenci Tomo, aku juga tidak bisa memintamu memaafkan Tomo, tapi…apa dengan balas dendam semuanya selesai?? Bukankah orang yang paling sakit adalah kau??”

Akanishi terus terisak. Tubuhnya masih bergetar. Akanishi mengantarku pulang dalam diam. Pantas saja Akanishi segitu bencinya pada Yamapi. Kalau Nagasawa adalah kakak tiri Yamapi berarti dia bisa mngambil hati Rina dan Ibunya Yamapi dengan baik. Buktinya saja mereka begitu akrab dengannya. Kalau Nagasawa tidak mengakui Yamapi sebagai pacarnya, kenapa dia begitu menguasai Yamapi??

Hari ini aku sendiri lagi. Yamapi ada konser bersama Shoonen Club di Osaka. Hari ini benar-benar melelahkan. Kepalaku pusing.

Pagi harinya kepalaku masih pusing. Karena tidak ada jadwal untuk hari ini aku memutuskan pergi jalan-jalan ke Shibuya. Siapa tahu aku bisa menghilangkan kepenatanku dengan jalan-jalan.

“Maki-chan!” PAnggil seseorang yang aku kenal suaranya.

“Hiroki!”

“Hisashiburi…”

“Hisashiburi, genki??”

“Hai genki desu.” Kata Hiroki sambl tersenyum. “Kau tambah kurus ya…”

“Hontou?”

“Iya…dulu aku bisa mencubiti pipimu.”

“Maksudmu!!!”

“Hahahaha…” Hiroki masih saja suka menggodaku. “Sedang apa kau di sini?”

“Aknu Cuma jalan-jalan aja.”

“Ga bareng Yamashita-san?”

“Dia kemarin dari Osaka, mungkin sekarang dia lagi tidur kecapean.” Jawabku.

“Hmm…mau minum??”

Aku dan Hiroki mencari Café yang nyaman. Akhirnya kami menemukan Café terbuka di samping Shibuya 109. Setelah memesan minuman kami banyak mengobrol. Hiroki sedih mendengar NEWS dibubarkan untuk sementara waktu.

“Kau ada perlu datang ke Tokyo?”

“Aku mau ketemu Ryo. Katanya dia butuh pertolonganku.” Kata Hiroki. “Ga kerasa 2 bulan lagi dia menikah.”

“Aku juga kaget mendengarnya. Mereka itu memang suka membuat sensasi ya…”

“Memang begitulah mereka…”

Kami terus mengobrol sampai TV di luar Café itu menyebut namaku. Aku dan Hiroki focus mendengarkan.

Berita mengejutkan kembali datang dari artis muda Horikita Maki (19 tahun). Kamera kami menangkap Horikita-san dan salah satu member boyband KATTUN Akanishi Jin sedang kencan di Star Park. Berikut liputannya.

Mereka menayangkan kami yang baru keluar dari rumah hantu sampai aku memeluk Akanishi. Isi kepalaku langsung kosong. Rasanya otakku membeku. Aku lupa semuanya. Yang aku ingat kepalaku sangat sakit, dan aku pingsan.

Saat kubuka mata, Hiroki ada di hadapanku. Aku ditidurkan di bangku taman dekat Shibuya 109. Air mataku keluar tanpa diminta.

“Daijoubu??” Tanya Hiroki.

“…”

“Aku tau kau pasti bingung harus menjelaskan apa ke Yamashita-san, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja, Yamashita-san pasti akan mendengar penjelasanmu.” Kata Hiroki menenangkanku.

“Hmm…” Aku bangun dan menghapus air mataku. “Arigatou Hiroki…”

“Ah…itu Horikita-san!!!” Seru seseorang yang ternyata wartawan.

Dalam sekejap wartawan berkumpul dan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.

“Jadi apa hubunganmu dengan Akanishi-kun?”

“Sejauh mana hubungan kalian??”

“Sekarang kau bersama Uchi, apa kalian kembali berpacaran??”

Aku menutup kedua telingaku. Pertanyaan-pertanyaan itu terasa menusuk telingaku. Mereka berisik. Aku mau pergi, aku mau bebas dari sini…GREP Hiroki menarikku menerobos kerumunan wartawan tadi.

“Gomen…kami harus pergi!”

Hiroki mengajakku berlari. Tak mau kalah para wartawan pun mengikuti kami berlari. Akhirnya aku dan Hiroki sampai di Apartementku. Kulihat kunci kamarku sudah terbuka. Yamapi pasti ada di dalam. Benar saja…

Tanpa menungguku masuk kamar, Yamapi menarikku pergi dari apartement.

“Chotto Yamashita-san!!” Tahan Hiroki. “Dengarkan dulu penjelasan Maki-chan, jangan main kasar…”

“Ini bukan urusanmu!!!” Bentak Yamapi.

“Ini memang bukan urusanku!” Hiroki kembali membentak. “Tapi kalau menyakiti Maki, itu jadi urusanku!!”

Yamapi terus menarikku menjauh dari apartemen. Aku masuk ke dalam mobil Yamapi. Yamapi membawaku pergi ke pantai. Pantai itu sepi. Hanya ada aku, Yamapi, dan…Akanishi yang sudah menunggu di depan mobilnya.

“Jadi…ada yang mau kalian jelaskan??” Tanya Yamapi.

“…” Bibirku rasanya kaku.

“Kenapa kalian diam saja???” Tanya Yamapi lagi. “Kalian mengakui kesalahan kalian??”

BUAK. Yamapi menonjok Akanishi.

“Tomohisa…” Panggilku, tapi sepertinya Yamapi tidak peduli.

“Kenapa kau lakukan ini padaku!! Aku mempercayaimu sebagai sahabatku, tapi kau malah…”

“Karena aku membencimu…” Potong Akanishi membalas tatapan Yamapi dengan dingin.

“Nande??”

BUAK. Akanishi membalas tonjokkan Yamapi. Mereka malah berkelahi.

“Yamette yo!!!” Teriakku sambil meleraikan mereka. “Jangan seperti anak kecil, kalian pikir berkelahi bisa menyelesaikan semuanya!!!”

GREP. Akanishi menarikku ke arahnya dan menciumku. Dia menciumku di depan Yamapi. Aku hanya bisa terdiam terpaku.

“Aku menyukai Maki…” Kata Akanishi. “Wajar kan kalau aku mengajaknya kencan.”

Akanishi pergi meninggalkan aku dan Yamapi dalam keheningan. Aku melihat tangan Yamapi mengepal dan bergetar. Bibirku rasanya kelu…

“Masami menunjukkan foto kalian sedang berciuman padaku…” Yamapi memulai. NAgasawa benar-benar memberitahu Yamapi. “Aku tidak percaya begitu saja, aku ingin mempercayaimu!! Demo…sudah terjadi seperti ini, apa aku harus percaya padamu lagi!!!” Yamapi menatapku tajam dengan mata merahnya.

“…”

“Jadi ini alasanmu sebenarnya tidak mau mengumumkan hubungan kita??”

“Kau salah!!” Untuk pertama kalinya aku bisa mengeluarkan suara.

“Soshite??”

“…”

“Atau kau mau menutupi hubunganmu denganku dengan mengumumkan kau berpacaran dengan Jin??”

“Jangan samakan aku dengan Nagasawa!!” Bentakku.

“Lalu kenapa kau kencan dengan Jin?Aku ini pacarmu kan!!”

“Apa karena kau pacarku kau punya hak penuh atas diriku dan melarangku pergi dengan cowok selain dirimu?!”

Kenapa aku malah berkata seperti itu. Sepertinya saat ini pikiranku bukan milikku lagi. Aku bisa merasakan Yamapi kaget dengan kata-kataku tadi. Hening yang panjang. Matahari sedikit demi sedikit tenggelam.

“Kita putus.” Kata Yamapi.

Kata ‘putus’ itu seperti petir yang menyambar tubuhku. Aku berdiri kaku. Bibirku beku. Yamapi kembali ke mobil dan meninggalkanku yang berdiri kaku dengan tatapan kosong. Aku ingin berteriak “Jangan pergi…aku tidak mau putus denganmu!!”, tapi sia-sia…bibirku terkunci rapat. Memang aku yang salah, aku sudah menghianati Yamapi. Aku hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan Yamapi.

Aku kembali ke apartemanku dengan pikiran kosong.

“Maki-chan!!!” Hiroki berlari keluar dari apartemen menyambut kedatanganku. “Daijoubu?”

Aku memeluk Hiroki untuk tempat bersandar. Aku menangis sekencang-kencangnya, tidak peduli penghuni apartemen lainnya melihatku. Hiroki tidak mengeluarkan satu katapun. Dia membiarkan aku menangis dalam pelukannya.

Aku meminta Hiroki pulang. Aku ingin sendiri saat ini. Malamnya aku terus menangis. Aku tidak bisa tidur. Semua kenangan dengan Yamapi terus tergambar di benakku. Semakin banyak kenangan yang kuingat semakin sesak dadaku. Aku baru bisa terlelap jam 5 pagi. Baru 3 jam aku terjaga, tiba-tiba ponselku berbunyi…dari Nagasawa.

Ohayo!” Sapanya ceria di sebrang sana.

“Nani?”

Kau pasti habis menangis semalaman kan?

“Kau meneleponku mau bilang kau senang kan?”

Tepat.” Kata Nagasawa. “Aku senang kau bisa merasakan apa yang kurasakan.

“Apa maksudmu?”

Yang kau rasakan sekarang sama dengan apa yang kurasakan saat aku harus menghianati Tomo-chan.” Nada bicaranya mulai serius. “Sakit sekali kan?Itu belum seberapa, rasa sakitku ditambah dengan kedatanganmu di kehidupan Tomo-chan.

“Rasa sakitmu itu karena kau yang membuatnya sendiri”

“…”

“Kau yang tidak mau popularitasmu turun mengorbankan perasaan Tomohisa, itu salahmu sendiri.”

Berisik!!!

Tuuut…tuuut…tuuut…

Nagasawa menutup ponselnya. Aku membuka gorden kamarku. Cuaca yang cerah terlalu silau untuk perasaanku saat ini. Biasanya jam segini aku melihat Yamapi masih tertidur lelap. Dia akan bangun setelah aku menyiapkan sarapan untuknya. Aku menutup wajahku dan mulai menangis lagi.

Aku tidak semangat untuk beraktivitas. Semua tawaran pemotretan dan syuting aku tolak. Aku ingin menenangkan diriku dulu.

*Skip*

“Pokonya besok kau harus datang.” Kata Erika yang datang ke apartemenku.

“Aku…”

“Tidak ada alasan!!!” Paksa Erika. “Aku mau semua temanku datang di hari pernikahank.”

“Baiklah…”

“Gitu dong!!”

Erika tidak membahas soal Yamapi sedikitpun. Aku tau maksudnya. Dia ingin aku bahagia tanpa harus mengingat masalah Yamapi lagi. Aku yakin Erika tau kalau Yamapi itu keras kepala, sama seperti Nishikido.

Pernikahan Erika dan Nishikido sangat meriah. Aku melihat Yamapi. Tapi tubuhku spontan berpaling. Aku tidak mau Yamapi melihatku. Akhirnya Erika dan Nishikido resmi menjadi suami istri.

“Aku akan melempar bunganya sekarang ya…” Kata Erika.

Semua tamu berkyaa ria, terutama para wanitanya. Mereka siap-siap menangkap bunga pengantin dari Erika. Erika pun melempar bunga itu. Bunga itu mendarat tepat ditanganku.

“Waaahh…Maki-chan omedetou!!!”

“…”

Semua mata tertuju padaku. Mataku sempat bertemu dengan mata Yamapi. Yamapi langsung memalingkan pandangannya, begitu juga denganku. Rasanya aku ingin menghilang dari sini. Bagaimana bisa mereka, Yamapi, Nagasawa, dan Akanishi bersikap biasa saja seolah tidak ada apa-apa. Aku hanya bisa diam di pesta yang meriah itu.

“Maki-chan, omedetou…kau dapat bunganya…” Hiroki menghampiriku yang berdiri sendiri menjauhi keramaian.

“Ah…arigatou.”

“Apa kau benar-benar Maki??”

“Nani??”

“Maki yang kukenal adalah cewek yang ceria dan suka marah-marah.”

“Aku tidak suka marah-marah tanpa alasan!!”

“Hehehe…” Hiroki tertawa.

“Nande??”

Hiroki menarik pipi kanan dan kiriku.

“itaaiii…”

“Habis kayanya kau kesulitan untuk tersenyum, jadi aku bantu.”

“Nande sore???” Aku menepis tangan Hiroki dari pipiku.

“Kau bukan Nobuta kan??” Goda Hiroki.

“Bukan. Tapi Nobuta itu aku.” Aku tersenyum.

“Gitu dong, waaahhh…Nobuta sudah bisa tersenyum…”

Sudah lama aku lupa caranya tersenyum. Hiroki tidak berubah. Dia masih saja bisa membuatku tertawa dalam keadaan sedih sekalipun. Dia memang sahabat yang baik. Untung ada Hiroki, jadi aku tidak kesepian di pesta semeriah ini. Untungnya lagi wartawan sibuk focus ke pernikaan Erika. Walau ada beberapa yang nyebelin ngejar-ngejar aku.

“Ne…Maki.” Kata Hiroki. “Mungkin sepertinya aku sedikit jahat, tapi jujur aku sedikit senang kau putus dengan Yamashita. Kau mungkin sudah mengerti apa maksudku.”

“Hmm.” Aku mengangguk. “Tapi saat ini aku sedang tidak mau memikirkan cinta.”

“Aku mengerti. Demo…aku Cuma mau bilang, kau jangan terus terpuruk seperti ini.”

“Hmm.” AKu mengangguk.

Aku tidak bisa melupakan Yamapi. Aku ingin kembali jadi cewek biasa yang tidak dikenal orang banyak. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Masalah kencan aku dan Akanishi masih berupa misteri. Aku masih dikejar-kejar oleh wartawan yang mencari berita terbaru dariku.

Sepertinya aku sudah ahli kabur dari kejaran wartawan. Aku menghentikan kegiatan keartisanku. Dunia artis mencari sosok Horikita Maki yang sedang naik daun dan tiba-tiba menghilang. Banyak infotainment yang menayangkan itu. Tidak sedikit wartawan yang mengejarku ke apartementku. Tapi aku berhasil mengatasinya.

Hampir 6 bulan aku menghilang dari dunia keartisanku. Sampai aku mendengar berita bangkitnya NEWS lagi. Walau tanpa Hiroki dan Hironori. Siang itu aku melihat konferensi pers kembalinya NEWS.

Banyak yang terjadi.” Yamapi memulai. “Kami akan berjuang sekali lagi, kami tidak ma terus terpuruk dengan masa lalu kami…dakara minna…ganbarimasu!!!

Clak…

Air mataku mengalir. Aku malu pada diriku yang terus terpuruk di masa lalu dan tidak maju ke depan. Aku memang tidak bisa melupakan Yamapi. Dan aku tidak akan melupakannya. Aku memutuskan untuk menjadi fansnya lagi. Aku akan melangkah maju ke depan dan menerima masa laluku tanpa penyesalan. Aku akan menjadi Horikita Maki yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s