Lie Heart IV

Hening. Aku hanya bisa terdiam. AKu tidak percaya Yamapi bilang suka padaku. Kenapa…kenapa…disaat seperti ini?? Kenapa disaat aku memutuskan untuk melupakannya, dia malah bilang suka padaku??

“Maki-chan???” Aku berbalik melihat orang yang memanggil namaku.

“Hiroki…” Ucapku pelan.

“Yo Yamashita-san!!” sapanya pada Yamapi. “Kau sudah selesai syuting?Ada banyak wartawan di rumahku. Akhirnya aku bisa kabur dan datang kesini, tapi ternyata banyak juga ya wartawan yang dating ke sini. Untung aku…”

Aku langsung menabrak Hiroki, aku menarik bajunya. Kugenggam erat…

“Maki-chan???Nande???”

“Hiroki…aku…aku mau jadi pacarmu.”

Aku mengatakannya. Apa yang sebenarnya kulakukan?? Aku menerima Hiroki di depan Yamapi. Beberapa detik setelah Yamapi bilang suka padaku. Aku benar-benar kaget YAmapi bilang suka padaku, aku takut melihat ke arahnya lagi. Aku takut menatap matanya. Aku…

“Hontou???” Tanya Hiroki menegaskan.

“Hm…” Aku mengangguk.

“YATTAAAA!!!!” Teriak Hiroki senang dan langsung menarikku ke pelukannya. “Maki-chan…kenapa malah menangis??”

“hmmm…” aku menggeleng dan mengusap air mataku. “Daijoubu. Aku senang, aku senang bisa punya pacar kayak Hiroki.”

“Ha..ha..ha..sudahlah jangan menangis. Bisa-bisa aku ikut menangis…he..he..he..” Hiroki memang cowok yang bisa membuatku tenang. Aku pun tersenyum. Tapi mata itu terus memandangku, membakar tubuhku.

“Wah…Uchi-kun, omedetou…!!” Kata Yamapi menghampiri kami, dan memberi selamat. Aku menghindari tatapannya.

“Arigatou Yamashita-san.”

“Hati-hati kalo pacaran dengannya…bisa-bisa kau ditonjok tiap hari lho!” Kata Yamapi bercanda.

“Ha..ha..ha..dia tidak akan menonjokku…”

Aku melirik ke arah Yamapi. Dia hanya acting atau apa sih, dia sama sekali tidak terlihat sedih atau patah hati sedikitpun. Saat mata kami bertemu, aku cepat-cepat memalingkan wajahku.

Sudah hampir 1 bulan setelah aku dan Hiroki membuat konferensi pers, yang menegaskan hubungan kami. Walau para fans Hiroki masih saja mengirimiku surat kaleng yang menyuruh kami putus. Ini baru pacaran dengan Hiroki Uchi, bagaimana kalau pacaran dengan Tomohisa Yamashita, bisa-bisa aku langsung dikirimi bom. Uh…kenapa aku masih memikirkannya juga!!! Aku kan sudah punya Hiroki yang selalu ada disampingku.

Tapi mau tidak mau aku juga merasa bersalah pada Yamapi. Aku orang yang paling tau bagaimana rasanya patah hati, seharusnya aku tidak berbuat begitu pada Yamapi. Sudah 5 episode Nobuta wo Produce aku tidak pernah bicara dengan Yamapi. Lebih tepatnya…aku menghindarinya. Setidaknya aku harus minta maaf. Dia kan rekan kerjaku, aku tidak mau punya musuh rekan kerjaku sendiri.

Yosh!!

Hari ini aku harus bisa menyapa Yamapi dan minta maaf padanya. Walau sebenarnya hati ini juga masih sakit…aku harus memperbaiki hubunganku dengannya, setidaknya sebagai rekan kerja. Syuting hari ini berjalan lancar. Kami juga diberi tau bahwa rating doramanya meningkat. Dan akhirnya aku punya fans juga, cewek-cewek yang mengejekku itu juga sudah tidak mengirimiku surat kaleng. Akhirnya mereka bisa menerima keberadaanku di dunia entertaimen.

“Ah…Yamashita-san.” Panggilku pada Yamapi. Yamapi berbalik ke arahku. “Anoo…besok ulang taunku, aku ingin merayakannya kecil-kecilan, aku mau mengundangmu, besok jam 7 malam di apartemenku.”

“Hmm…”

“Soshite…gomennasai…” aku membungkukkan badanku.

“Untuk apa?”

“Eh…itu…waktu itu…waktu kau…”

“Maksudmu waktu aku bilang suka padamu?” kenapa malah Tanya padaku!!”Ha…ha…ha…”

“Eh??” Kenapa dia tertawa.

“Kau pikir aku serius??”

“Haah???”

“Kau minta maaf karena takut menyakitiku?Ha…ha…ha…kau ini polos sekali ya Horikita-san. Mana mungkin aku bisa suka padamu…memikirkanmu saja aku tidak pernah…jadi…”

PLAK!! Aku menampar Yamapi…air mataku tidak bisa keluar saking marahnya. Seperti klise film yang terbakar, itu pikiranku saat ini, kosong.

“Kenapa sih…setiap aku mencoba bicara denganmu yang aku dapat hanya kata-kata kasarmu!!” Kataku pelan namun tegas dan bergetar.

Aku pun pergi. Aku tidak peduli saat itu sedang hujan besar. Aku memutuskan tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Yamapi. Setiap aku melangkah untuk memperbaiki hubuganku dengannya, setiap itu pula aku merasakan satu samurai lagi menebas hatiku.

GREP…Tiba-tiba Yamapi memelukku dari belakang.

“HANASE YO!!!!” Aku mendorong tubuhnya, melepaskan diri dari pelukannya. Teriakanku mengalahkan suara derasnya hujan. “Anata ga…hontouni kirai desu!! KIRAI DESU!!!”

Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku menangis sekeras-kerasnya. Hujan menutupi air mata yang mengalir dari mataku. Semuanya sudah selesai. Hubunganku dengan Yamapi tidak akan ada kelanjutannya.

Kring…kring…kring…

O-Tanjoubi OMEDETOU!!!

“Hiroki…”

Kau baru bangun tidur ya…yokatta…sepertinya aku berhasil jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang taun padamu nih!!

“Arigatou…kau memang yang pertama!”

Kalau gitu cepatlah turun, aku sudah menunggumu di bawah nih!!

“Nande???”

Aku mau kasih hadiah special nih…!

“Nani sore??”

Hi-mit-su!!í”

“Hiroki!!!!”

Makannya cepat turun, atau aku yang ke atas.

“Jangan!!!” teriankku. “Ah…maksudku, aku yang akan turun, kau tunggulah.”

Wakatta…hayaku.

“Hai..matte yo!!chotto…jya!”

Aku tidak mungkin meminta Hiroki yang ke atas. Selain aku baru bangun tidur dan masih memakai piamaku, mataku ini lho!!! Bengkak…gara-gara menangis kemarin sih! Kalau dipikir-pikir sudah berapa liter air mata yang kuhabiskan untuk menangisi Yamapi. Akh…aku tidak akan pernah menangisinya lagi. Ini untuk yang terakhir kalinya. Cukup aku memikirkannya. Hari ini ulang taunku, aku harus gembira. Aku pun mandi dan bersiap-siap menemui Hiroki.

“Gomenne Hiroki…kau nunggu lama ya..??” Kataku.

“Laaammaaaa…”

“Gomen..hontouni gomen…”

“Gimana ya…hmm…kau harus menebusnya di hari ulang taunmu ini.”

“Aree..??? Kan aku yang ulang taun, kok…??”

“Tenang saja, aku Cuma mau aku dan kamu melakukan hal yang biasa sepasang kekasih lakukan, he…he…he…” Hiroki tersenyum jail.

“Kita baru satu bulan pacaran, jangan minta yang macam-macam!!!”

“Memangnya aku minta apa??”

“Kau bilang tadi hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih?? Apa coba kalau bukan…itu…masa aku harus mengatakannya!!”

“Maksudmu aku minta ke Love Hotel gitu???”

“Lalu…” Pipiku memerah.

“Ha…ha…ha…aku tidak akan secepat itu mengajakmu ke Love Hotel,” Hiroki tertawa, dan itu membuatku malu sekali. Apa sih yang kupikirkan!! “Aku mau mengajakmu kencan…ke…pantai…doushita??”

“Pantai?”

“Iya…aku memang ingin mengajak pacarku kencan ke Pantai.”

“Hmm…”

“Atau kau ingin aku mengajakmu ka Love Hotel??”

“Hiroki…berhenti menggodaku!!!” Kataku sambil memukulinya.

“Itai..itai…ternyata benar ya apa kata Yamashita-san, aku harus siap dipukul olehmu tiap hari.”

“…” Tolong jangan sebut namanya…

“Nee…Maki-chan!!”

“Kalau gitu ayo kita pergi.” Ajakku.

“Hai. Ikuzo!!!”

Kami pun menuju mobil Hiroki yang terparkir di depan Miracle Apartemen ini. Langkahku berhenti melihat Yamapi keluar dari mobilnya. Dia membawa kotak besar. Aku langsung memalingkan mukaku, sebelum Yamapi melihatku.

“Yo Yamashita-san!!” Hiroki…kenapa kau malah memanggilnya.

“Yo!!” Balas Yamapi pada Hiroki.

“Lho?? Kau tidak enak badan? Wjahmu pucat sekali Yamashita-san!”

“Hmmm…daijoubu, sepertinya aku Cuma kena flu aja.” Jawabnya. “Kalian mau pergi??”

“Sou desu. Ini kan ulang taun Maki-chan, jadi kami mau kencan. Ke pantai…” Jelasnya. Kenapa malah diceritakan sih!!!

“Pantai?”

“Iya..ingat waktu Deeto Show?? Aku juga menawarkan pantai kan?? JAdi aku ingin mewujudkannya sekarang.”

“Oh…”

“Sekalian kami mau beli perlengkapan untuk nanti malam, ada perayaan kecil-kecilan. Kau datang kan Yamashita-san??”

“Ah…sepertiya aku tidak bisa, makannya aku bawa kadonya sekarang. Nih!” Yamapi menyodorkan kotak besar yang dibawanya padaku. “O-tanjoubi omedetou…” ucapnya.

Aku diam saja, masih memalingkan wajahku.

“Sugoiii…!! Besar sekali hadiahnya…” Hiroki malah mengambil hadiahnya untukku. “Hadiah dariku saja tidak sebesar ini.”

“Ok…kalo gitu, aku pulang ya…jya!!”

“Jya!!” Balas Hiroki.

Yamapi pergi menuju mobilnya. Aku mengambil hadiah dari tangan Hiroki.

“Chotto!!” Aku memanggil Yamapi. Yamapi berbalik ke arahku. Dan matanya membesar kaget melihatku membawa kotak hadiah besar darinya itu. “Bawa ini!” Aku mendorong hadiah itu ke tubuhnya. Aku berbalik tapi dia malah menarik tanganku. “Hanase!!! Aku tidak butuh hadiah dan ucapan selamat ulang taun darimu!!” Bentakku.

“Kali ini saja…” Suaranya lemas, mungkin itu pengaruh flunya. “Kau terima hadiah dariku. Setelah kau menerima hadiah ini, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Onegaii!”

Yamapi pergi dengan mobilnya. Aku hanya bisa melihat mobilnya pergi menjauh sambil memegang hadiah besar darinya. Kata-kata yang diucapkan Yamapi tadi seolah dia berkata “Sayonara” padaku. Kalau begitu bagus kan, berarti aku juga tidak perlu susah-susah mengindarinya lagi. Tapi…kenapa rasanya samurai itu menancap lagi di dadaku???

“Maki-chan??”

“…”

“Ne…Maki-chan!!!”

“Ah…gomen, ikuzo.”

Aku dan Hiroki pun pergi menuju pantai. Akhirnya kami sampai juga di pantai.

“SUGOIII….Kireii na!!” Teriakku begitu sampai di pantai.

“Tentu saja…!!!” BAlas Hiroki. “Makannya aku paling suka pantai. Kalau sudah di pantai rasanya semua masalah lenyap.”

“Hmm…” Aku mengangguk mengiyakan.

Yamapi juga suka sekali dengan pantai, dia suka musim panas. Tiap kali dia penat, dia pasti akan lari ke pantai untuk refreshing. Ha…ha…aku ini benar-benar fans yang baik ya!! Mengingat Yamapi lagi…

Rasanya otakku sekarang tidak bisa berfikir jernih. Tanpa sadar aku terus melangkah mendekati lautan. Sedikit demi sedikit aku bisa merasakan ombak-ombak kecil menghantam kakiku.

Cpret…cepret…

“Hiroki!!!” Hiroki menyemprotkan air padaku. “Bajuku jadi basah kan…”

“Bagus dong, jadi ada alas an untuk kau buka baju…he…he…he…” Godanya.

“HIROKI!!!!”

Aku membalas menyemprotkan air lagi padanya. Kami jadi main-main air. Berkejar-kejaran. Dalam sekejap kami basah kuyup.

“Ini gara-gara kau!! Aku kan ga bawa baju ganti.” Keluhku.

“Ya…kita keringkan.”

“Keringkan gimana??”

“Ayo!” Hiroki menarik dan menggenggam tanganku. Tangannya hangat. “Kita jalan-jalan sambil mengeringkan badan kita.”

“Hmm…” Aku mengangguk.

Untung saja Hiroki cowok yang pintar ngobrol. Kalau tidak, aku tidak tahu mau ngomong apa. Aku merasa bersalah padanya. Aku merasa telah mempermainkannya. Aku menerimanya hanya karena aku ingin menyangkal perasaan Yamapi padaku. Lihat saja…sekarang pun, saat aku berkencan dengannya aku malah memikirkan Yamapi. Aku menatap Hiroki yang masih semangat bercerita. Aku tidak boleh menyakiti cowok yang sebaik ini. Selama ini hanya Hiroki yang selalu mengerti keadaanku. Ya…aku harus mulai menyukainya…aku harus bisa menerima dia sebagai pacarku seutuhnya.

“Hiroki aku…”Aku mulai bicara untuk mengungkapkan keputusanku tadi. Tapi…

“Ah…kireiii!!!” Teriaknya sambil menujuk ke arah sunset. “Kireii ne??”

“Hmm…” Aku mengangguk.

Pandanganku terpaku pada matahari yang mulai tenggelam di atas laut itu. Aku malah merasakan kesedihan di matahari itu. Seolah saat dia akan tenggelam ke laut, dia tidak akan pernah muncul lagi.

GREP…

“Hiroki…??” Aku kaget. Hiroki tiba-tiba memelukku dari belakang.

“Sebentar lagi…” Katanya. “Sebentaaaar lagi, hanya sampai matahari itu tenggelam.” Suaranya bergetar di telingaku.

“Hiroki…nande??”

“Sssstttt…jangan bicara. Aku hanya ingin memelukmu saat ini.”

Suasana pun hening. Hiroki tetap memelukku. Hangat. Aku bisa merasakan perasaan Hiroki yang mengalir ke tubuhku. Matahari pun sedikit demi sedikit tenggelam ke laut. Sampai ia tidak terlihat lagi.

“Yosh!!” Kata Hiroki sambil mengepalkan tangannya ke atas. Dia sudah melepaskan pelukannya untukku. “Ayo pulang!!”

“Eh..???”

“Ehh??? Kau ini gimana sih. Bisa-bisa kau terlambat di pesta ulang taunmu sendiri. Ikuzo!!”

Di dalam mobil suasana hening. Hiroki kenapa ya?? TIdak biasanya dia diam seperti ini. Tadi waktu Hiroki memelukku juga aku merasakan hal yang tidak biasanya. Apa Hiroki sedang punya masalah??

“Anoo…” Aku memulai pembicaraan untuk memecah keheningan.

“Akhirnya…sampai.” Hiroki memotong kata-kataku.

Kami sampai di took kue. Hiroki memarkirkan mobilnya. Kami pun memilih-milih kue ulang taun. Kami Juga berbelanja untuk pesta ulang taunku malam ini. Tapi tetap saja suasananya sangat tidaak menyenangkan. Hiroki hanya bicara seperlunya. Di mobil pun hening. Setiap aku memulai membuka pembicaraan Hiroki selalu mengalihkannya. Sampai akhirnya kami sampai di apartemenku.

“O-TANJOUBI OMEDETOU GOZAIMASSSUUU!!!!” Teriakan itu langsung menyambutku begitu aku membuka apartemenku.

Ini benar-benar surprise untukku. Mereka semua, member NEWS ditambah Kamenashi dan Erika menyambut kedatanganku.

“Minna…arigatou” Aku benar-benar terharu.

“OK!!” Kata Hiroki. “Kami membawa cake ulang taun, setelah Maki-chan tiup lilin, langsung aja kita abisin ni kue…dou???”

“Ehhhh…berarti ada dua kue dong!” Kata Erika.

“Nande????” Hiroki kaget.

“Gapapa.” Kataku. “Makin banyak kue makin serrruuu kan!”

“KAlo gitu…ayo Maki!! Aku udah ga sabar pengen makan kuenya nih!!” Ajak Erika.

Aku make a wish sebelum niup lilinnya. Aku minta, hidupku bahagia, sekarang dan selamanya bersama orang-orang yang aku sayangi dan mereka juga menyayangiku, seperti mereka. Kutiup lilin di atas kue ulang taunku. Lalu aku memotongnya.

“Akh…kue pertama” Teriak Erika. “Pasti buat Uchi-kun dong??” Goda Erika.

“he..he..”

“Aku tidak mau.” Kata Hiroki membuatku kaget. “Aku mau yang besar, ga mau yang kecil!!!”

HA…HA…HA…semuanya tertawa. Aku memang ikut tertawa, tapi…aku tau Hiroki pasti sedang berusaha menolak kue pertamaku.

“Ehhh…” Kata Hiroki lagi.

“Nande??” Tanya Tegoshi.

“1…2…3…4…5…6…” Dia menghitung. “7” dia menghitung dirinya sendiri. “Mana Yamashita-san??”

“Akhhh!!!Aku juga baru sadar” Kata Erika. “Yamapi kemana??”

“Padahal tadi pagi aku dan Maki bertemu dengannya.” Jelas Hiroki.

“Benarkah??” Tanya Ryo.

“Hmm.” Hiroki mengangguk.

“Padahal aku telepon dia ga pernah diangkat. Kemana sih tu anak??” Tambah Ryo.

“Ah…moshi-moshi Pi-chan.” Kata Koyama yang ternyata dari tadi dia pegang ponsel itu sedang berusaha menghubungi Yamapi. Ponselnya langsung di loadspeaker. Aku hanya terdiam. “Dimana lu??”

Di rumah.” Jawab Yamapi di seberang sana.

“Di rumah??? Kenapa lu masih di rumah??” Tanya Ryo.

Emangnya kenapa?

“Akira…sekarang kan ulang taun Nobuta, memangnya kau tidak tau.” Sekarang Kamenashi yang bicara.

Ohhh…aku tau.

“Soshite…???” Tanya Ryo.

Aku udah ngasih kado kok. Aku ga bisa dateng, ga enak badan nih!! Tanya aja ke Uchi-kun, ya kan Uchi-kun???

“Benar gitu Hiroki??” Tanya Ryo memastikan.

“…”

“Hiroki???”

Aku melihat Hiroki mengepalkan tanganya. Hiroki kenapa?? Hari ini dia aneh???

“Jangan jadikan itu alasan.” Jawab Hiroki akhirnya. Suaranya bergetar.

Ehh??

“Memangnya kalau kau sudah memberi Maki-chan kado berarti kau tidak perlu dating ke pesta ulang taunnya!!!!” Suara Hiroki mulai meninggi.

Kenapa kau malah marah-marah?

“Aku TIDAK suka orang munafik sepertimu!!!”

“…”

“Hiroki…” Aku berusaha menenangkan Hiroki yang tiba-tiba marah.

“Datang kau ke sini!!!” Bentak Hiroki pada Yamap lagi.

Aku bilang aku tidak bisa datang…

“Benarkah???” Hiroki benar-benar marah sekarang. “Kalau tidak datang, aku tidak akan pernah melepaskan Maki-chan untukmu!!”

“Hiroki!!! Ngomong apa kau!!!” Bentakku pada Hiroki.

“Kalau dalam 15 menit kau tidak datang…” Hiroki mengacuhkan kata-kataku. “Maki-chan akan menjadi milikku…se-la-ma-nya!!!”

TREK. Hiroki menutup ponsel Koyama. Suasana berubah. Semuanya kaget melihat kejadian tadi. Hiroki termasuk member NEWS yang ceria dan tidak pernah marah. Ryo yang sahabat dekatnya pun kaget melihat kelakuan Hiroki tadi.

“OK!! Kita tunggu 15 menit. Kalau dia…”

PLAK!! Aku menampar Hiroki. Erika keluar apartemenku. Semuanya memiliki pikiran yang sama untuk membiarkan aku dan Hiroki menyelesaikan masalah kami sendiri. Aku hanya menatap tajam Hiroki.

“Hari ini kau kenapa sih???” Aku memulai pembicaraan. “Sejak kau memelukku kau berubah, kau sama sekali tidak bicara padaku, kau selalu mengalihkan apa yang ingin aku bicarakan, dan sekarang…kau ini seperti orang bodoh tau ga!!!!”

“…”

“JANGAN DIAM SAJA!!!!” Bentakku.

“Kita putus.”

“Heeeehhh??”

“Aku senang bisa jadi pacarmu. Walau Cuma 1 bulan.” Jelasnya.

“Jangan bercanda…”

“Aku tidak bercanda.” Hiroki menatap dalam ke mataku. “Terima kasih, di pantai tadi kau mengizinkanku memelukmu. Terima kasih kau mau jadi pacarku. Aku bahagia bisa jadi pacarmu…”

“Jangan memutuskan seenaknya!!!Jangan mempermainkan perasaanku!!!”

“Kau yang sudah mempermainkanku!!!”

“ehh??”

“Aku tau semuanya…aku mendengar pembicaraanmu dengan Yamashita-san!!Aku tau kau menerimaku setalah Yamashita-san bilang suka padamu!!Aku tau…yang kau sukai itu Yamashita-san, bukan aku…”

“…”

“Setiap bersamaku, aku tau kalau kau memikirkan orang lain. Dan itu Yamashita-san kan??Aku tau selama ini kau memaksakan diri…”

“Aku tidak memaksakan diri!!!” Potongku. “Aku akui…aku…aku memang menyukai Yamapi. Tapi aku sudah memutuskan untuk menyukaimu!!”

“…”

“Kau yang selalu ada untukku, aku…aku membutuhkanmu Hiroki! Aku akan menyukaimu. Aku akan mencoba menyukaimu. Onegai…” Aku membungkkuk memohon pada Hiroki. Hiroki meneganggak tubuhku.

“Kalau begitu, boleh aku menciummu??”

“eh??”

“Boleh??”

“…” Aku pun mengangguk.

Hiroki menyentuh wajahku dengan lembut. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku bisa merasakan nafas hangatnya. Aku memejamkan mata. Aku deg-degan. Bibir kami makin dekat. Aku mengepalkan tanganku. Tubuhku bergetar. Tenanglah Maki…kau sudah bertekad untuk menerima Hiroki kan?? Ayo tenanglah…Tapi tiba-tiba Hiroki melepaskanku.

Aku membuka mataku dan melihat Hiroki pergi menuju pintu. Aku hanya diam melihat Hiroki membuka pintu dan keluar. Aku bisa melihat Yamapi di luar pintu. Hiroki pergi, Yamapi masuk ke apartemenku. Aku memandang tajam ke arahya. Aku mendekati Yamapi, dia pun berjalan mendekatiku.

“INI SEMUA GARA-GARA KAU!!!!” Aku memukuli Yamapi. Tidak peduli dengan wajahnya yang pucat karena sedang sakit. Aku menangis. “GARA-GARA KAU AKU MENYAKITI HIROKI!!!!AKU BENCI PADAMU!!!” Sambil terus memukulinya. “Aku…benci…aku benar-benar benci padamu!!”

GREP. Yamapi memelukku dalam diam. Aku terus menangis di pelukannya.

Sinar matahari mulai menusuk mataku dari celah-celah jendela. Perlahan aku membuka mataku. Mataku langsung membesar.

“KYAAAAAA!!!!!” teriakku sambil mendorong jatuh cowok yang ada dihadapanku.

“iiiiitaaaiiii….” Katanya sambil memegang pinggangnya yang sakit karena terdorong jatuh dari tempat tidur. “Memangnya kau tidak bisa membangunkanku dengan lembut ya!!!!”

“Sedang apa kau di sini???Kenapa kau bisa tidur di tempat tidurku???Apa yang kau lakukan??” TAnyaku gugup.

Yamapi malah mendekatiku. Wajahnya dekat sekali. Aku bahkan bisa melihat bayanganku di dalam bola matanya. Dadaku mulai bergemuruh.

“Memangnya kau lupa kejadian tadi malam…” Katannya dengan senyum yang menggoda. “…Ma-ki-chan???”

“KYAAAAAA!!!!!” Kali ini aku tepat menonjok mukanya.

“ITTTTAAAAAIIIII!!!!!”

Kejadian tadi malam. Tentu saja aku ingat. Aku telah menyakiti Hiroki. Lalu Yamapi datang dan menenangkanku. Sepertinya karena aku menangis terus, aku sampai ketiduran.

“Itai…” Erang Yamapi yang luka tonjok dariku sedang aku obati. “Kalau mau mengobati jangan melamun!!!”

“…”

“Sudahlah! Kalau kau yang ngobatin bisa-bisa malah infeksi.” Dengan kesal aku menekan lukanya. “aakkkhhh…sakit tau!!!”

“…”

Hari ini aku benar-benar tidak bersemangat. Bagaimana keadaan Hiroki setelah tadi malam ya??? Akhh….kenapa sih di hari ulang taunku aku malah mendapat masalah seperti ini. Aku melihat wajahku di kaca. Mataku bengkak.

“Kau menyesal putus dengan Hiroki??” Tanya Yamapi sambil memindah-mindahkan chanel TV, yang melihatku melamun di depan kaca.

“…”

“Kalau kau menyesal, balik aja lagi apa susahnya sih!!!”

“…” Aku berbalik dan menatap tajam kea rah Yamapi.

“Maumu apa sih!!!” Katanya mulai serius. “Kau harus bersikap tegas! Kalau kau plin-plan terus seperti ini bukan Cuma Hiroki yang kau sakiti, kau juga menyakiti diri sendiri! Soshite…bagaimana denganku???”

“…”

“Aku pulang.”

Aku tidak tau harus berbuat apa. Yamapi pergi dari apartemenku. Dia benar. Aku plin-plan. Aku melihat kotak besar di atas meja. Itu kado yang Yamapi berikan untukku. Aku mengambil dan membukanya. Ehhhh… Aku benar-benar kaget melihatnya. Di dalamnya ada 6 boneka pangeran dengan tampilan yang berbeda-beda. Semua boneka itu kalau aku tekan dadanya dia akan berbunyi, “O-tanjoubi omedetou…anata ga suki suki suki desu…boku no hime-chan”. Bagaimana dia bisa tau kalau aku ingin mendapatkan hadiah seperti ini. Sejak kecil, aku ingin mendapatkan hadiah boneka pangeran yang bisa mengatakan kata-kata seperti ini.

Kenapa Yamapi bisa tau. Kalau diingat-ingat lagi, waktu di Deeto Show, dia juga mengajakku ke tempat yang ingin aku kunjungi untuk kencan dengan orang yang kusukai. Apa itu suatu kebetulan?? Lalu…kenapa boneka pangerannya ada 6??? Aku mengamati salah satu boneka pangeran itu. Ehh…di bajunya ada tulisan kecil…”16-sai” …eh??? Kemarin kan ulang taunku yang ke-20. Apa mungkin???

“ehh???”

Ternyata di setiap baju boneka pangeran itu ada tulisan yang menunjukkan umurku. “15-sai”, “16-sai”, “17-sai”, “18-sai”, “19-sai”, dan boneka pangeran yang memakai baju zaman edo ini pasti untuk ulang taunku yang sekarang, “20-sai”. Kenapa…kenapa bisa begini??? Apa dia mengenallku dari 6 tahun yang lalu?? Tapi aku baru bertemu dengannya taun lalu. Bagaimana bisa???

Aku melihat ke dalam kotak kado itu. Dan semuanya terjawab. Di dalamnya terdapat arikel mengenai diriku. Mulai dari arikel saat pertama kali aku di potret untuk majalah Onna Magz. Itu foto pertamaku yang tampil di sebuah majalah. Semua pemotretan majalah yang aku lakukan untuk debut di dunia entertainment, Yamapi memilikinya di dalam artikel ini. Ada cd juga di dalamnya.

Aku memutar cd itu. Ternyata isinya adalah iklan-iklanku, berbagai wawancara yang aku lakukan, berbagai acara tv yang aku tampil di dalamnya, bahkan episode-episode dorama yang pernah aku mainkan. Padahal semuanya itu…belum tentu ada orang yang melihatnya. Bahkan mungkin tidak ada yang tertarik untuk mengumpulkannya. Bahkan acara Deeto Show pun dia punya. Sambil tidak menyangka apa yang telah aku dapatkan dari Yamapi aku memasukkan kembali hadiah-hadiah itu dalam kotaknya. Aku terkejut untuk yang kesekian kalinya. Ada banyak sekali foto-fotoku. Itu foto-foto saat aku syuting Nobuta wo Produce. Kapan dia mengambilnya???

Air mataku mulai mengalir. Sejak 6 tahun lalukah dia…menyukaiku?? Aku…aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya. Aku…

Berita mengejutkan kembali datang dari bintang muda Hiroki Uchi…

Mendengar itu aku langsung memfokuskan mata dan telingaku ke acara di TV.

Hiroki Uchi, salah satu member NEWS keluaran Johnny’s Jimusho tertangkap razia polisi tadi malam di sebuah klub. Dia tertangkap dalam keadaan mabuk-mabukan padahal dia masih dibawah umur…

Tayangan penangkapan Hiroki pun muncul. Aku baru pertama kali melihat Hiroki dalam keadaan mabuk seperti itu. Wajahnya keliatan depresi dan tidak bersemangat. Penampilannya jadi terlihat lusuh.

Setelah kejadian malam kemarin, apa yang terjadi pada karirnya??? Kita sudah bergabung dengan Johnny Kitagawa, selaku pemilik agency Johnny’s Jimusho. Kitagawa-san, bagaimana anda menanggapi kejadian Uchi-kun in??

Saya benar-benar kecewa pada Uchi-kun, karena selama ini dia tidak pernah menimbulkan masalah, apalagi sampai tertangkap polisi seperti ini.

Sou desuka??? Lalu…bagaimana dengan karir Uchi-kun??

Dengan terpaksa…aku memutuskan…memberikan suspend selama 2 tahun untuk Uchi-kun…

Aku langsung pergi keluar apartementku. Aku pergi menuju kantor Johnny’s Jimusho. Ini semua pasti gara-gara aku. Aku yang membuat Hiroki seperti ini. Padahal karirnya sedang naik. Akhirnya aku menemukannya. Ruangan NEWS.

“Minna gomenna…” Aku bisa mendengar suara Hiroki. “ Selama ini…arigatou gozaimasu…!!!”

“Hiroki…” Aku menerobos masuk ke ruangan NEWS.

PLAK. Aku menampar Hiroki. Aku benar-benar marah mengetahui Hiroki melakukan hal bodoh seperti ini.

“Gomen…” Kataku. “Hontouni gomen…”

“Sudah dua kali kau menamparku.” Kata Hiroki. “Tapi karena kau sudah minta maaf…aku maafkan.” Dia mengelus kepalaku. “Jya ne…minna!!”

“Chotto Hiroki!!” panggilku.

CHUP. Aku mencium pipi Hiroki.

“Aku…aku juga senang bisa pacaran dengan Hiroki. Cewek yang jadi pacar Hiroki pasti beruntung sekali.”

“Jangan buat aku ingin memelukmu Maki-chan.”

“Kita masih bisa berteman kan??” Tanyaku.

“Tentu saja tidak.” KAta Hiroki. “Karena aku fans kedua-mu kan???”

“Hmmm…” AKu mengangguk sambil tersenyum, membalas senyuman Hiroki.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau menipu hatimu lagi, wakarimasuka??”

“Hai…wakarimashita.”

“Jya…”

“Jya…”

“Ah..mou ichido. Kalau kau sudah bosan dengannya…” melihat ke arah Yamapi. “Aku masih menerimamu, he…he…he…”

“Hmm…” Aku mengagguk. “Aku pasti akan mencarimu, he…he…he…”

Ini Hiroki yang kusukai. Selalu ceria. Selalu bisa menenangkanku. Walau bercanda, aku senang. Dia teman pertamaku di dunia entertainmen. Aku tidak akan pernah melupakannya. Hiroki pun pergi.

BUAKK!!!

Aku melihat kebelakang. Nishikido-kun memukul Yamapi.

“Ini semua gara-gara kau!!!” teriaknya pada Yamapi.

“Moii yo Nishikido-kun!” Kata Tegoshi.

“Aku mengenal baik Hiroki. Dia tidak mungkin berbuat seperti ini kalau tidak ada alasannya.”

“…”

BUAK!!!

Nishikido-kun memukuli Yamapi lagi.

“Sudah Ryo!!” Teriak Koyama.

“Nishikido-kun!!!” teriak Tegoshi.

“Aku tidak rela Hiroki dihukum hanya karena Yamapi merebut Horikita-san darinya!!!”

Member NEWS mencoba melepaskan Ryo dan menjauhkannya dari Yamapi agar tidak memukuli Yamapi lagi.

“Tenangkanlah dirimu Nishikido-kun!!” KAta Takahisa.

“Aku tidak bisa tenang!!!” Teriak Nishikido lagi. “Dia bahkan sama sekali tidak minta maaf pada Hiroki!! Apa dia pantas disebut sebagai leader!!!”

“CUKUP!!!” teriakku. “Yamapi…”

“Semuanya memang salahku!!!” Potong Yamapi. “Semuanya gara-gara aku. Gara-gara aku juga menyukai Horikita!! Tapi…Kenapa…kenapa aku tidak boleh menyukainya…???”

BRUK…

YAmapi pingsan.

“Yamapi!!!” teriakku.

Member NEWS langsung membawa Yamapi ke rumah sakit terdekat. Tubuhnya panas. Dia demam, Mungin ini karena flu yang dia alami tidak segera diobati. Dia juga tidak istirahat dengan cukup. Ditambah lagi Nishikido tadi memukulinya. Aku mendekati Nishikido.

“Aku tau kau tidak menerima kepergian Hiroki…” Kataku memulai pembicaraan. “Tapi apa kau tidak melihat tadi Hiroki tersenyum??”

“…”

“Kau mengenalnya kan?? KAu lebih mengenalnya daripada aku, jadi kau juga pasti tau Hiroki tidak pernah menyesali apa pun yang telah dia lakukan??”

“…” Nishikido masih tetap diam.

“Hiroki mengorbankan karir dan perasaanya untukku. Karena dia tau aku akan lebih bahagia bersama Yamapi, dia tau aku menyukai Yamapi. Dan aku tidak akan mengecewakan pengorbanannya dengan membohongi perasaanku. Sebagai sahabatnya…seharusnya kau yang paling mengerti kan???”

Aku meninggalkan Nishikido yang hanya tertunduk dalam diam. Aku menuju rumah sakit. Aku melihat member NEWS berkumpul di depan kamar Yamapi.

“Anoo…”

“Daijoubu.” Kata Tegoshi. “Dokter bilang dia hanya demam tinggi karena flu dan kecapean. Dia hanya perlu istirahat.”

“Hmm…gomennasai…” Aku membungkuk. “Aku…aku membuat NEWS jadi begini, hontouni…gomennasai.”

“Daijoubu daijoubu!!” Kata Takahisa.

“iiyo!!” Kata Hironori. “Lagipula 2 taun itu juga waktu yang singkat kok, setelah 2 taun kami pasti berkumpul lagi!!!”

“Bener, kau tidak perlu merasa bersalah Horikita-san.” Kata Kato.

“Arigatou…” Ucapku.

“Do itashimashite. Lebih baik sekarang kau yang menemani Yamapi…” Kata Tegoshi.

Aku pun masuk ke kamar Yamapi dirawat. Aku bisa melihatnya tertidur lelap. Sepertinya dia sangat lelah. Dia flu karena mengejarku dalam hujan. Dia tidak bisa istirahat karena menemaniku saat aku menangis. Dia juga dipukuli teman baiknya Nishikido karena aku putus denagn Hiroki. Aku menggenggam tangannya yang tidak diinfus. Tangannya terkulai lemas dan hangat. Aku mengelus wajahnya yang pucat dan penuh luka dengan hati-hati takut membangunkannya.

“uhuk…uhuk…”

“Sakit ya…” bisikku.

Yamapi tetap tertidur lelap. Namun, aku bisa merasakan tangannya membalas menggenggam tanganku. Aku melihat air mata keluar dari matanya. Genggamannya semakin kuat dan bergetar.

“Daijoubu Yamapi. Aku ada di sini…” Aku menghapus air matanya dan mengecup kening Yamapi dengan lembut.

“Sumimasen…” seseorang membuka pintu kamar Yamapi.

“Ah…anata…Yamapi no haha desuka??” Tanyaku.

“Hai.” Ibu Yamapi mengangguk. “Arigatou sudah menjaga Tomo-chan.”

“Ahhhh….kau kan cewek yang pernah nonjok Nii-chan!!!”

“Sssstttt…Rina, jangan berisik, kakakmu sedang tidur!” Kata ibu Yamapi. “Kau boleh pulang…dare??”

“Maki…Maki Horikita desu.”

“Ah…Horikita-san.”

“Iya…pulang aja sana!!”

“Rina…!”

“Aku…boleh aku yang menemaninya di sini?? Onegai…” Pintaku.

“Kau suka Nii-chan ya??”

“Rina…kau ini!!”

Aku menatap memohon. Mata ibu Yamapi melihat tangan Yamapi yang masih menggenggam tanganku.

“Kalau gitu…yoroshiku ne, Horikita-san.”

“Hai. Arigatou.” Kataku tersenyium.

“Tapi…”

“Sudahlah Rina…” Potong Ibu Yamapi pada Rina. “Biarkan Tomo-chan istirahat, ayo kita pulang.” Ibu Yamapi menarik Rina keluar kamar. “Ah..kalau ada apa-apa, beritahu aku ya!!”

“Tentu.”

Pagi itu Yamapi membuka matanya. Yamapi terus menggenggam tanganku sampai pagi.

“Ohayo!” Sapaku dengan senyuman.

“Ohayo…” Jawabnya lemas.

“Bagaimana perasaanmu??? Sudah lebih baik??”

“Lumayan…”

“Yokatta!! Kalau gitu aku pulang ya…”

Yamapi yang menyadari tangannya masih menggenggam tanganku malah semakin erat menggenggemnya. Matanya menatap tajam ke dalam mataku.

“Aku…aku suka padamu.” Ucapnya.

“Aku tau” Jawabku polos. “Kau sudah mengataknnya 2 kali, ditambah 18 kali dari boneka Pangeran yang kau berikan padaku.”

“Jangan bercanda…”

“Lho?? Memangnya siapa yang bercanda??” KAtaku. “Kau perllu banyak istirahat, Nobuta masih membutuhkan Akira mengerti?? Aku pulang dulu…jadi…lepaskan tangankku!” Pintaku.

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

“Eh…pertanyaan yang mana??”

“Kau ini…” Sepertinya Yamapi mulai kesal. “Aku suka padamu. Apa kau mau jadi pacarku?”

“Kau ini ga romantis ya!” Godaku. “Masa nembak aku di rumah sakit kayak gini, mana kau masih loyo gitu lagi!!”

“Jangan banyak komentar, tinggal jawab aja apa susahnya sih!!”

“Kenapa jadi marah-marah gitu!!”

“Habis kau…”

CHUP. Aku mencium pipinya. Matanya membesar karena kaget.

“Aku juga suka padamu. Aku…aku mau jadi pacarmu.” Jawabku malu.

“YATTTTAAAAA!!!” Teriak Yamapi sambil mengangkat kedua tangannya. Tanpa sadar infusnya lepas.

“Baaakkaaaa!!!! Kau mau mati kekurangan darah ya!!! Aku panggil suster dulu…” Aku pergi dengan panic.

Suster kembali memasang infuse di tangan Yamapi. Dia malah senyum-senyum melihat darahnya mengalir kemana-mana. Cowok bodoh!!

“Aku pulang!!” Kataku setelah suster selesai dan meninggalkan ruangan.

Tapi Yamapi menarik tangankku ke arahnya. Tubuhku terdorong. Yamapi menciumkku. Ciuman yang hangat dan lembut. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku memejamkan mata dan membalas ciumannya. Yamapi sepertinya sudah ahli mencium cewek. Dia mulai menciumku dengan nafsu. Aku jadi sulit bernafas. Tunggu lidahnya…

PLAK!!

“Itaaaiii…” Erang Yamapi yang kutampar. Tepat mengenai bagian yang terluka.

“AKU…PULANG!!!!”

Aku pergi dari kamar Yamapi dengan buru-buru. Wajahku memanas. Aku yakin warnanya sudah menandingi tomat. Jantungku berdetak sangat kencang. Bayangan Yamapi yang tadi menciumku masih terbayang. Aku beruntung sekali. Ciuman pertamaku aku lakukan dengan cowok yang aku sukai. Cowok itu artis idolaku pula. Dan sekarang dia jadi pacarku. Aku benar-benar beruntung…

Kriiiing…kring…kring…

“Moshi-moshi..” Tapi tidak ada yang membalas. “Moshi-moshi…dare desuka??” Tanyaku. “Moshi moshi…??”

Telepon yang aneh. Nomornya pun aku tidak mengenalnya. Biar sajalah!!

Hari ini syuting terakhir Nobuta wo Produce. Akhirnya aku bisa juga membereskan dorama pertamaku dengan lancar. Hubunganku dengan Yamapi pun berjalan lancar. Lancar?????

“Ohayooooo!!!” Sapa Yamapi di tempat syuting ke semuanya.

“Ohayo, Yamapi. Nee…hari ini hari terakhir ya, ga kerasa!!” Kata Kamenashi.

“Ga kerasa??” Tanya Yamapi, tapi itu tidak seperti pertanyaan. “Aku malah kerasa banget, rasanya laaaamaaaa. Sepertinya ini syuting terlama yang pernah aku lakukan.”

“Eh…nande???” Tanya Erika.

“Karena lawan mainku adalah cewek yang menyebalkan!! Terlalu lama bersamanya.” Tatapan matanya jelas-jelas menuju ke arahku.

“Aku benar-benar sial, bayangin dong masa dorama pertamaku harus bareng sama cowok super sombong!!” Balasku.

“Setidaknya aku tidak pernah memukul orang!” Dia menunjukkan ujung bibirnya yang di tempell hansaplas.

“Itu karena kau berani macam-macam padaku!!”

“Memangnya apa salahku??”

“Apa kau bilang??? Kau sudah…”

“Sudah apa???”

“Ikhhhh….!!!”

Aku pergi ke toilet. AKu tidak mungkin menceritakan hal memalukan ini pada Kamenashi dan Erika, walau mereka tau kami berpacaran. Jadi gini. Aku tiba-tiba kehilangan kunci apartemenku. Dan tiba-tiba aku menemukannya lagi, tergantung di pintu apartemenku. Ternyata Yamapi yang sengaja mengambilnya dan diam-diam menduplikatnya. Dan tadi pagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s